Bambang Susanto Diganjar IBL Legacy Award atas Dedikasinya di Dunia Basket
Jakarta (BERITA HARIAN ONLINE) – Bambang Susanto, yang merupakan pemilik dan pembina klub Pacific Caesar Surabaya, menerima IBL Legacy Award 2025 sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi dan kontribusinya dalam membangun serta mempertahankan keberadaan bola basket di Indonesia.
IBL Legacy Award adalah penghargaan yang diberikan kepada individu-individu yang memberikan kontribusi besar terhadap kemajuan bola basket di tingkat nasional.
Tahun ini, penghargaan tersebut dianugerahkan kepada Bambang Susanto, yang juga dikenal sebagai Suk Fuk, atas perannya dalam menjaga keberlangsungan klub Pacific Caesar Surabaya selama lebih dari lima dekade, sejak era 1960-an.
Penghargaan IBL Legacy Award pertama kali diberikan pada musim 2020 kepada pemain legendaris Sony Hendrawan, kemudian kepada mantan Ketua Umum PP Perbasi Danny Kosasih pada 2024, dan tahun ini beralih kepada Suk Fuk sebagai simbol penghargaan atas kontribusi dan inspirasi yang telah ia berikan.
Perjalanan Bambang Susanto bersama Pacific Caesar tidak dimulai dari meja manajerial, melainkan sebagai pemain. Ia turut serta dalam berbagai kompetisi nasional besar seperti Kobatama dan Gubernur Cup Jawa Timur.
Pada 1991, Suk Fuk berhasil membawa Pacific Caesar menjadi juara Kobatama Pratama dan meraih peringkat ketiga dalam kompetisi klasik melawan Pelita Jaya di Tasikmalaya.
Setelah pensiun sebagai pemain, Bambang Susanto naik ke jajaran manajemen klub dan menjadi sosok sentral dalam perjalanan Pacific Caesar. Ia memastikan klub tersebut terus melahirkan generasi baru pemain basket dari Surabaya.
Pacific Caesar didirikan pada 8 Mei 1968, tetapi baru secara resmi menjadi klub profesional pada 11 Agustus 2011 di bawah kepemimpinan Bambang Susanto.
Klub asal Surabaya ini pertama kali mengikuti kompetisi profesional pada Kobatama 1992 setelah lolos dari seleksi ketat antar klub di Jawa Timur. Pacific tampil mewakili Jawa Timur bersama Golden Hand dan Halim Kediri.
Dedikasi Suk Fuk tidak hanya terlihat di lapangan, tetapi juga dalam pembangunan infrastruktur. Pada 1997, ia mendirikan GOR Pacific Caesar di kawasan Kenjeran, Surabaya. Gedung ini menjadi markas utama tim dan simbol dedikasi panjang pria yang memilih mengabdikan hidupnya untuk basket Indonesia.
Pacific Caesar dikenal sebagai klub penghasil pemain berkualitas tanpa bergantung pada skuad bertabur bintang. Nama-nama seperti Indra Muhammad, Widyanta Putra Teja, dan Nuke Saputra adalah lulusan dari sistem pembinaan klub ini. Kini, giliran Daffa Dhoifullah yang terpilih sebagai pemain IBL All Star melanjutkan tradisi tersebut.
Bambang Susanto konsisten membuka kesempatan bagi talenta muda. Banyak pemain yang berkembang di Pacific kemudian melangkah ke jenjang lebih tinggi, termasuk tim nasional. Dalam format IBL modern yang menerapkan sistem laga kandang dan tandang, Pacific Caesar terus bertahan dengan dukungan penggemar setia dan pembinaan akar rumput yang kuat.
Musim IBL 2025 menjadi salah satu bukti keberlangsungan klub di bawah arahan Suk Fuk. Pacific Caesar menutup musim di posisi ke-10, meningkat dari musim sebelumnya. Meskipun bukan tim papan atas, klub ini tetap menjadi salah satu pilar penting dalam peta pembinaan bola basket nasional.
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita BERITA HARIAN ONLINE.