Penghargaan Ekonom terhadap Respon Bijak Indonesia atas Tarif AS
Kebijakan yang diambil pemerintah turut berperan dalam menjaga kepercayaan pasar di tengah situasi global yang tidak menentu
Jakarta (BERITA HARIAN ONLINE) – Josua Pardede, Kepala Ekonom Permata Bank, memberikan apresiasi terhadap kebijakan responsif Pemerintah Indonesia dalam menghadapi tarif AS melalui strategi diplomatik, perluasan kerjasama perdagangan, serta deregulasi kebijakan impor.
Menurutnya, kebijakan tersebut membantu menjaga kepercayaan pasar di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian.
“Meskipun pasar global terguncang akibat perang dagang yang meningkat, stabilitas respon pasar terhadap Indonesia menunjukkan bahwa ekonomi domestik tetap kuat dan mampu beradaptasi menghadapi tekanan eksternal,” ujar Josua dalam pernyataannya di Jakarta, Rabu.
Lebih lanjut, Josua menyatakan bahwa pasar masih melihat Indonesia memiliki dasar ekonomi yang kuat.
Sementara itu, Verdhana Sekuritas dalam laporannya menyebutkan bahwa langkah pemerintah, yang dipimpin oleh Presiden RI Prabowo Subianto dan timnya, terhadap tarif resiprokal AS sudah tepat, melindungi ekonomi RI dari dampak kebijakan AS tersebut.
“Ini merupakan perkembangan signifikan yang diapresiasi komunitas bisnis. Peralihan dari mandat ketat ke kerangka insentif untuk meningkatkan daya saing adalah langkah yang baik,” ujar Verdhana.
Dalam menghadapi tarif resiprokal AS, Verdhana menilai Indonesia melihat peluang untuk mengalihkan impor ke produk-produk AS seperti pertanian, energi, dan teknologi.
Di sisi lain, pemerintah menyediakan insentif fiskal untuk mendorong impor dari AS dan mempertahankan daya saing ekspor. Pemerintah juga berencana untuk mengeksplorasi pasar baru seperti Uni Eropa dan wilayah lainnya.
Pemerintah akan melakukan deregulasi pada pajak dan kepabeanan untuk meringankan beban pelaku usaha di Indonesia. Selain itu, pemerintah juga akan melindungi sektor padat karya dari tarif dan impor ilegal.
Sebelumnya, Pemerintah Indonesia telah menyiapkan paket negosiasi yang akan dibawa ke perundingan untuk menghadapi kebijakan tarif timbal balik atau resiprokal AS di Washington DC.
Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, menilai bahwa jalur diplomatik dipilih sebagai solusi yang saling menguntungkan tanpa mengambil langkah retaliasi atas kebijakan tarif resiprokal tersebut.
Namun, Pemerintah Indonesia akan lebih dahulu melakukan pertemuan dengan pimpinan negara-negara ASEAN pada 10 April 2025 untuk menyelaraskan sikap.
“Indonesia akan mendorong beberapa kesepakatan dengan negara-negara ASEAN. Menteri perdagangan juga akan berkomunikasi dengan negara-negara seperti Malaysia, Singapura, Kamboja, dan lainnya untuk menyelaraskan sikap ASEAN,” kata Airlangga.
Pada Rabu (2/4/2025), Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kenaikan tarif setidaknya 10 persen ke banyak negara, termasuk Indonesia, atas barang-barang yang memasuki AS.
Menurut unggahan di Instagram Gedung Putih, Indonesia berada di peringkat kedelapan dalam daftar negara yang terkena kenaikan tarif AS, dengan kenaikan sebesar 32 persen.