Faktor Kunci Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Menurut Ekonom
Jakarta (BERITA HARIAN ONLINE) – Dendi Ramdani, seorang ekonom dari Bank Mandiri, menyoroti tiga elemen utama yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih tinggi dari prediksi Dana Moneter Internasional (IMF).
Dalam kapasitasnya sebagai Kepala Departemen Riset Industri dan Regional di Bank Mandiri, Dendi menegaskan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk melampaui proyeksi IMF.
Faktor pertama adalah peningkatan konsumsi yang didorong oleh besarnya jumlah penduduk usia produktif di Indonesia dibandingkan dengan penduduk usia non-produktif.
Menurut IMF, Indonesia diprediksi akan menempati posisi ketujuh dalam daftar negara dengan Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar berdasarkan paritas daya beli atau Purchasing Power Parity (PPP).
Dendi mengatakan, “Penduduk usia produktif ini merupakan kekuatan potensial yang dapat memacu pertumbuhan ekonomi, terutama jika dikombinasikan dengan modal dan teknologi.”
Ia menambahkan bahwa konsumsi dari penduduk usia produktif perlu dijaga dari sisi daya beli dan pengeluaran sehingga permintaan terhadap barang dan jasa dapat meningkat, yang pada akhirnya akan menggerakkan produksi.
IMF memperkirakan PDB Indonesia pada 2025 berdasarkan PPP akan mencapai 4,98 triliun dolar AS, menempatkannya di posisi ketujuh setelah China, Amerika Serikat, India, Rusia, Jepang, dan Jerman.
Faktor kedua yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, menurut Dendi, adalah optimalisasi sumber daya alam di sektor-sektor seperti energi, pertambangan, perkebunan, pertanian, dan perikanan.
Dendi menekankan, “Sumber daya alam ini adalah fondasi bagi pembangunan ekonomi yang lebih kuat.”
Faktor ketiga adalah peningkatan kualitas institusi dan tata kelola pemerintahan, yang masih memiliki ruang untuk perbaikan.
“Perbaikan dalam aspek ini dapat menciptakan iklim investasi dan bisnis yang lebih kondusif,” ungkapnya.
Dendi menekankan bahwa dengan institusi dan tata kelola yang lebih baik, pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai target ambisius Presiden RI, Prabowo Subianto, yakni hingga 8 persen.
“Bahkan dalam kondisi institusi dan tata kelola yang belum optimal, Indonesia bisa tumbuh sekitar 5 persen,” ujarnya.
Dendi juga menekankan bahwa periode pemerintahan Prabowo dan 15-20 tahun mendatang akan menjadi kunci bagi Indonesia untuk mencapai status negara maju.
“Dalam 15-20 tahun ke depan, Indonesia harus berfokus pada peningkatan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat, peningkatan kualitas SDM, adopsi dan pengembangan teknologi, serta peningkatan kualitas institusi,” jelas Dendi.
Ia mengingatkan bahwa percepatan ini penting karena setelah 20 tahun, angkatan kerja yang sekarang produktif akan mulai menua.
“Situasi ini bisa berisiko karena Indonesia dapat terjebak dalam middle income trap,” pungkasnya.