Site icon BERITA HARIAN ONLINE

Kemendes PDT Tekankan Pentingnya Komunitas dalam Mengatasi Kesenjangan Digital

kemendes pdt soroti peranan komunitas atasi kesenjangan digital

Kemendes PDT Tekankan Pentingnya Komunitas dalam Mengatasi Kesenjangan Digital

Jakarta (BERITA HARIAN ONLINE) – Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) menekankan peran krusial komunitas dalam membantu mengatasi kesenjangan digital antara daerah perkotaan dan pedesaan di Indonesia.

Kepala Badan Pengembangan dan Informasi Desa dan Daerah Tertinggal, Kemendes PDT, Mulyadin Malik, mengacu pada program kerjasama antara Kedutaan Besar Inggris di Jakarta dan organisasi non-profit Common Room Networks Foundation untuk memberikan pelatihan literasi digital dan keterampilan kepada komunitas terpinggirkan.

“Selama lima tahun terakhir, program ini telah diimplementasikan melalui School of Community Network dengan dampak signifikan di 11 lokasi proyek di Indonesia,” ujarnya saat membuka Pameran Jejaring Warga di Jakarta, Jumat.

Mulyadin menambahkan, proyek School of Community tersebut tidak hanya fokus pada pembangunan infrastruktur tetapi juga memperkuat kapasitas masyarakat setempat dalam mengelola dan mengembangkan jaringan mereka sendiri.

“Pendekatan berbasis komunitas menjadi kunci sukses program ini. Dengan melibatkan masyarakat lokal dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengelolaan jaringan, program ini memastikan keberlanjutan dan rasa kepemilikan yang kuat dari masyarakat,” jelasnya.

Mulyadin menegaskan bahwa di era digital saat ini, akses terhadap teknologi dan internet bukan lagi sekadar kebutuhan, melainkan sudah menjadi hak dasar bagi semua orang. Namun, kenyataan bahwa masih ada kesenjangan digital yang signifikan terutama di daerah pedesaan dan tertinggal di Indonesia, tidak boleh diabaikan.

Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau dan 75.265 desa, menghadapi tantangan unik dalam menyediakan konektivitas digital yang merata.

Oleh karena itu, Kemendes PDT berkomitmen untuk terus mendukung inisiatif yang mendukung konektivitas digital di daerah pedesaan dan tertinggal melalui berbagai program dan kebijakan, termasuk kerjasama internasional.

Salah satu proyek dari School of Community adalah Menara Internet Bambu di Sumba, yang memanfaatkan bambu untuk membangun menara relay sinyal nirkabel.

“Ini merupakan inovasi yang menggabungkan material lokal dengan teknologi digital untuk menyediakan akses internet di daerah pedesaan. Ini bukan hanya tentang menyediakan konektivitas, tetapi juga bagaimana teknologi bisa beradaptasi dengan konteks lokal dan memanfaatkan kearifan lokal untuk solusi yang berkelanjutan,” kata Mulyadin.

Common Room Networks Foundation adalah organisasi non-profit yang berbasis di Bandung, yang telah berkembang menjadi yayasan aktif dalam mengembangkan ekosistem digital dan budaya berbasis lokal.

Keberhasilan proyek School of Community juga dipamerkan dalam Pameran Jejaring Warga yang berlangsung di Bentara Budaya Jakarta pada 2-9 Mei. Pameran tersebut menampilkan prototipe infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi, artefak dan produk budaya, serta dokumentasi dari serangkaian pelatihan literasi digital yang telah dilaksanakan sejak 2020.

Exit mobile version