Site icon BERITA HARIAN ONLINE

Kementerian UMKM: 84 Persen Generasi Muda Tertarik Bisnis Berkelanjutan

kementerian umkm 84 persen anak muda tertarik bisnis ramah lingkungan

Kementerian UMKM: 84 Persen Generasi Muda Tertarik Bisnis Berkelanjutan

Jakarta (BERITA HARIAN ONLINE) – Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman menyatakan bahwa prospek wirausaha muda semakin cerah dengan 84 persen generasi muda menunjukkan ketertarikan pada bisnis yang menitikberatkan pada prinsip ramah lingkungan.

“Menurut data kami, 84 persen generasi muda tertarik pada ekonomi kreatif, di mana 58 persen memulai usaha untuk perbaikan sektor lingkungan dan 56 persen lainnya fokus pada produksi pakaian ramah lingkungan,” ujar Maman saat membuka program Akselerasi Ekspor Kreasi Indonesia (ASIK) di Jakarta, Senin.

Maman menjelaskan bahwa mayoritas pelaku usaha di sektor ekonomi kreatif di Indonesia saat ini berusia di bawah 40 tahun, dengan jumlah populasi Gen Z sekitar 79 juta jiwa dan generasi milenial mencapai 69 juta jiwa.

Mereka menghasilkan produk yang rendah emisi karbon dan mengembangkan sistem pengurangan limbah. Ini membuktikan bahwa ekosistem kewirausahaan di Indonesia semakin cenderung ke arah praktik bisnis yang lebih bertanggung jawab.

Sedangkan, berdasarkan catatan Sistem Informasi Data Tunggal Kementerian UMKM, diproyeksikan pada tahun 2024 akan ada sekitar 4,6 juta unit usaha dari sektor ekonomi kreatif dari total 13,4 juta UMKM yang terdaftar. Tiga subsektor terbesar adalah kuliner dengan 3,2 juta usaha, fashion 720 ribu usaha, dan kriya 572 ribu usaha.

“Sepanjang tahun 2024, nilai ekspor ekonomi kreatif diperkirakan meningkat signifikan, berada di kisaran 396 triliun hingga 400 triliun rupiah, dan sektor ini akan mampu menyerap tenaga kerja sekitar 12,5 juta orang,” tambahnya.

Namun demikian, sebagian besar pengusaha UMKM masih berada pada tahap usaha subsistem yang belum mencapai skala ekonomi yang lebih besar, serta kurang dalam pemanfaatan teknologi. Mereka juga rentan terhadap perubahan pasar dan disrupsi digital.

Ia menyoroti kurangnya kebijakan politik dan perhatian pemerintah terhadap hak kekayaan intelektual, yang dapat menjadi aset penting untuk mendukung perkembangan usaha para kreator.

Hal ini menjadi dasar peluang kolaborasi antara Kementerian UMKM dan Kementerian Ekonomi Kreatif melalui inisiatif seperti program Asik.

“Semoga kolaborasi antara UMKM dan Ekraf ini dapat mendorong perkembangan lebih lanjut dan meningkatkan dukungan kita terhadap pelaku ekonomi kreatif,” ujarnya.

Dalam program Asik, Kementerian UMKM akan memberikan dukungan dari sisi pembiayaan, pelatihan, dan akselerasi pasar domestik, serta kerjasama dengan Kementerian Perdagangan untuk menjangkau pasar ekspor.

Dia optimistis bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pasar potensial bagi produk asing, tetapi juga produk kreatif lokal dapat bersaing di pasar domestik.

Exit mobile version