Kiat Kurangi Kebiasaan Berbagi Informasi Berlebihan di Medsos
Jakarta (BERITA HARIAN ONLINE) – Psikolog klinis Ratih Ibrahim mengungkapkan bahwa dorongan untuk membagikan informasi di media sosial sering berhubungan dengan kebutuhan untuk mendapatkan perhatian dan validasi sosial.
Dalam wawancara dengan BERITA HARIAN ONLINE dari Jakarta, Rabu, lulusan psikologi klinis dari Universitas Indonesia ini mengatakan bahwa tanpa pemahaman dan kontrol diri yang baik, kebiasaan membagikan informasi dan konten di media sosial dapat mengganggu dan merugikan orang lain.
Sebagai contoh, menyebarluaskan informasi tentang kecelakaan dapat melukai perasaan keluarga korban, mempengaruhi opini publik secara salah, serta menyebabkan trauma sekunder bagi penontonnya.
Ratih menekankan pentingnya mengasah empati untuk membatasi kebiasaan membagikan informasi berlebihan di media sosial.
Langkah-langkah berikut dapat membantu mengurangi kebiasaan membagikan konten di media sosial.
1. Berhenti sejenak sebelum mengunggah
Sebelum membagikan konten, ambil jeda sejenak untuk mempertimbangkan, “Apakah konten ini perlu dibagikan?” serta “Apa dampak jangka panjang dari konten yang akan diunggah?”
2. Lakukan refleksi diri
Pertanyakan kepada diri sendiri bagaimana perasaan kita jika ada yang mempublikasikan wajah kita dalam situasi kecelakaan sebelum memutuskan untuk membagikan konten di media sosial.
3. Ingatkan diri akan pentingnya privasi
Bagi mereka yang gemar berbagi konten di media sosial, penting untuk mengingatkan diri sendiri mengenai pentingnya menjaga privasi terutama dalam situasi yang sensitif.
4. Pertimbangkan dampak dari tindakan
Orang yang sering berbagi informasi di media sosial disarankan untuk mempertimbangkan dampak tindakannya terhadap orang-orang yang terlibat dalam informasi tersebut di dunia nyata.
Ratih menyatakan bahwa empati tidak hanya diperlukan saat melihat kecelakaan.
“Saat melihat konten di media sosial, kita tetap bisa melatih empati dengan menahan diri untuk tidak menyebarkannya,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa berempati berarti memahami bahwa penderitaan bukanlah sesuatu yang layak dijadikan konsumsi publik, tetapi sesuatu yang perlu ditangani secara hati-hati.