Legislator Soroti Pentingnya Tes Psikologis Menanggapi Kasus Pemerkosaan di RSHS
Seorang dokter seharusnya melalui tes MMPI, sehingga penyimpangan perilaku dapat diidentifikasi
Bandung (BERITA HARIAN ONLINE) – Zaini Shofari, anggota Komisi 5 DPRD Jabar, menekankan pentingnya evaluasi psikologis dan kejiwaan bagi dokter, sebagai respons terhadap kasus pemerkosaan oleh calon dokter spesialis anastesi di RSUP Hasan Sadikin (RSHS).
Zaini menyampaikan bahwa penerapan tes psikologis pada dokter merupakan hal penting, karena perilaku menyimpang seperti dalam kasus yang baru-baru ini terjadi seharusnya bisa terdeteksi sejak awal.
“Sebagai dokter, sebenarnya ada tes MMPI yang seharusnya bisa mengidentifikasi penyimpangan perilaku. Mungkin ada kesalahan dalam tes atau proses yang perlu dievaluasi. Ini harus menjadi perhatian untuk perbaikan,” ungkap Zaini di Gedung DPRD Jabar Bandung, Kamis.
Zaini juga mengungkapkan keprihatinannya atas kasus pemerkosaan tersebut dan mendorong peningkatan infrastruktur rumah sakit.
Menurutnya, kejadian ini tidak hanya disebabkan oleh faktor personal dari dokter tersebut, tetapi juga terkait dengan infrastruktur dan petugas di rumah sakit.
Misalnya, keberadaan dan fungsi Closed Circuit Television (CCTV) di rumah sakit yang seharusnya bisa menjangkau berbagai area dan perlu ada pemantauan untuk mencegah potensi kejadian yang tidak diinginkan.
“CCTV dapat dioptimalkan untuk pencegahan, bukan hanya sebagai alat bukti setelah kejadian,” ujarnya.
Ia menambahkan, adanya CCTV yang dipantau oleh petugas akan mengurangi keberanian pelaku kejahatan. Hal ini tidak hanya untuk menanggulangi dokter nakal, tetapi juga mencegah pencurian di rumah sakit, seperti barang bawaan pasien atau pengunjung.
Lebih lanjut, Zaini menyatakan bahwa meskipun gedung dan fasilitas RSHS luas, rumah sakit tersebut masih menjadi rujukan dari berbagai daerah. Warga dari daerah pantura hingga Jabar Selatan banyak yang masih mengandalkan RSHS sebagai tempat rujukan.
Artinya, meski rumah sakit luas, banyaknya rujukan tentu membutuhkan personel dan sarana prasarana yang memadai.
“Personel itu tidak hanya dokter dan perawat, tetapi juga keamanan yang bertujuan untuk menjaga kenyamanan pasien,” ujarnya.
Situasi ini menunjukkan perlunya peningkatan dan pembangunan rumah sakit provinsi di berbagai daerah untuk mengurangi beban RSHS.
Dalam kesempatan itu, Zaini juga memberikan apresiasi kepada aparat kepolisian yang dengan cepat menangkap tersangka.
“Kami mendukung polisi untuk mengusut tuntas kasus ini. Termasuk mendorong masyarakat yang menjadi korban untuk tidak takut melapor,” tuturnya.
Sebelumnya, Polda Jabar menahan seorang peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad) atau dokter residen bernama Pratama Anugerah Pratama (31) atas dugaan kekerasan seksual terhadap anggota keluarga pasien di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.
Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Jabar, Kombes Pol Surawan, memastikan bahwa kasus tersebut telah ditangani oleh pihaknya.
“Ya, kami menangani kasusnya dan tersangka telah ditahan sejak 23 Maret,” kata Surawan di Bandung, Rabu (9/4).
Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Unpad, Yudi Mulyana Hidayat, memastikan bahwa pelaku telah diberhentikan sebagai peserta PPDS.
“Karena terduga merupakan PPDS yang dititipkan di RSHS dan bukan karyawan RSHS, maka Unpad telah mengambil tindakan tegas dengan memberhentikan yang bersangkutan dari program PPDS,” katanya.