Site icon BERITA HARIAN ONLINE

Menteri Pertanian: Pejabat Lakukan Lobi Terkait Kasus Pengamat yang Rugikan Negara Rp5 Miliar

Menteri Pertanian: Pejabat Lakukan Lobi Terkait Kasus Pengamat yang Rugikan Negara Rp5 Miliar

Jakarta (BERITA HARIAN ONLINE) – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan adanya upaya lobi dari beberapa pihak, termasuk pejabat, yang memintanya untuk memberikan maaf pada kasus pengamat yang terlibat dalam proyek fiktif merugikan negara sebesar Rp5 miliar di kementeriannya.

“Banyak yang melobi. Pejabat ada yang melobi saya, mengatakan ‘tolong dimaafkan’ terkait kasus pengamat yang diduga terlibat proyek fiktif. Tidak (memaafkan). Saya membela rakyat kecil,” ujar Mentan di Jakarta, Kamis (17/4).

Mentan mengungkapkan hal ini saat menjelaskan adanya seorang pengamat di bidang pertanian yang diduga menyebarkan opini tanpa dasar dan terlibat proyek fiktif yang merugikan negara Rp5 miliar di Kementerian Pertanian.

Mengenai kasus tersebut, Amran menegaskan penolakannya terhadap permintaan tersebut karena menurutnya hal ini menyangkut kepentingan rakyat, bukan sekadar urusan pribadi yang bisa diselesaikan melalui pengampunan tanpa pertanggungjawaban.

“Ada yang melobi saya untuk dimaafkan. Tidak, ini atas nama rakyat. Bukan atas nama menteri. Tidak, saya katakan tidak (maafkan),” tegas Mentan.

Ia mengaku menerima banyak tekanan agar bersikap lunak, namun memilih tetap berpihak pada kepentingan petani dan masyarakat kecil yang dirugikan oleh perbuatan tidak bertanggung jawab dalam proyek fiktif tersebut.

Menurut Amran, tindakan menolak upaya lobi itu merupakan bentuk keberpihakan nyata kepada rakyat dan sebagai tanggung jawab moral untuk tidak membiarkan pelaku penyimpangan bebas dari konsekuensi hukum.

Ia juga menyatakan kesiapan menerima segala risiko dari penolakan terhadap lobi tersebut, karena baginya yang diperjuangkan adalah keadilan bagi petani dan kepentingan bangsa secara keseluruhan.

“Kalau memang harus ada risikonya, saya yang terima. Tapi kami sudah siap menghadapi segala risiko demi rakyat Indonesia, demi petani Indonesia,” ucapnya.

Menurutnya, drama dan kepura-puraan dalam birokrasi akan dipertanggungjawabkan, sehingga pejabat harus berani bersikap jujur dan membela kebenaran tanpa kompromi.

“Jangan dizalimi. Jangan kita berpura-pura berdrama, penuh drama. Itu nanti dipertanggungjawabkan semua,” tuturnya.

Mentan mengungkapkan bahwa pengamat yang dimaksud bukanlah sosok asing di lingkungan Kementan. Namun, dia tidak menyebutkan inisial serta tahun pelaksanaan proyek dari pengamat tersebut.

Disebutkan bahwa pengamat itu merupakan seorang guru besar dari perguruan tinggi ternama yang pernah memperoleh sejumlah proyek di Kementerian Pertanian. Namun, berdasarkan hasil audit internal, ditemukan 23 pelanggaran dalam pengadaan barang dan jasa.

“Barang yang diadakan tidak digunakan. Banyak proyek yang fiktif dan tidak sesuai kontrak. Setelah saya menjabat kembali, tidak ada lagi ruang untuk praktik korupsi. Karena itulah, dia mulai melancarkan kritik yang tendensius dan tidak berdasar,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa Kementerian Pertanian sangat terbuka terhadap kritik yang membangun dan berbasis data. Kritik yang konstruktif justru diperlukan untuk mendorong perbaikan dan kemajuan sektor pertanian.

Mentan menambahkan bahwa integritas di lingkungan Kementerian Pertanian adalah harga mati. Siapapun yang terbukti merugikan negara, baik pengamat, mitra kerja, maupun pegawai internal Kementan, akan ditindak tegas.

“Ini adalah musuh negara. Jangan karena dia pengamat lalu merasa tak bisa disentuh hukum. Tidak ada pihak yang kebal hukum, termasuk pengamat bahkan pegawai Kementan sendiri. Kami tidak akan membiarkan koruptor berkeliaran di Kementan, dalam bentuk dan simbol apapun,” tegas Mentan.

Ia meminta publik untuk bersabar menanti proses hukum yang sedang berjalan. Pemerintah berkomitmen menegakkan hukum secara adil dan tanpa pandang bulu.

Exit mobile version