Pegula Sabet Gelar Pertama di Charleston
Jakarta (BERITA HARIAN ONLINE) – Petenis unggulan teratas, Jessica Pegula, sukses mengamankan gelar lapangan tanah liat pertama dalam kariernya di Charleston Open 2025. Pertandingan final yang berlangsung pada Minggu (6/4) waktu setempat atau Senin WIB, mempertemukan sesama petenis Amerika di Daniel Island, di mana Pegula berhasil menundukkan Sofia Kenin dengan skor 6-3, 7-5.
“Ini adalah gelar lapangan tanah liat pertama saya, dan itu sangat menyenangkan. Memenanginya di Charleston membuatnya semakin istimewa,” ujar Pegula, diambil dari situs resmi Charleston Open, Senin.
Kemenangan ini menandai gelar tunggal kedua Pegula dalam empat turnamen terakhirnya, sebuah periode produktif yang membawanya ke tiga final. Senin ini, Pegula akan melesat ke peringkat tiga dunia, menggantikan Coco Gauff sebagai petenis Amerika teratas.
Final tersebut menjadi yang pertama antara dua petenis AS di ajang ini sejak Martina Navratilova mengalahkan Jennifer Capriati di Hilton Head Island pada 1990.
Pegula menghadapi kesulitan dalam bertahan selama reli dan mendapati dirinya tertinggal 5-1. Namun, Kenin gagal memanfaatkan tiga poin set yang dimilikinya.
Seperti yang sering dilakukannya, Pegula berjuang untuk bangkit di babak tersebut, memenangkan enam gim terakhir untuk meraih kejuaraan dalam waktu satu jam dan 26 menit.
“Saya benar-benar mengatakan kepada pelatih saya, ‘Rasanya saya sudah mencapai batas.’ Saya baru menyadari betapa lelahnya saya,” ucap Pegula.
“Permainan Kenin mulai mencapai level tertinggi. Ada beberapa poin di mana saya merasa tidak semangat dan tidak bertahan. Kondisi saat itu sangat berangin dan menantang,” tambah petenis berusia 31 tahun itu.
Salah satu petenis paling konsisten dalam tur selama dua tahun terakhir, Pegula kini memegang rekor WTA terbaik dengan 25 kemenangan pada musim ini.
Setelah mencapai tiga semifinal berturut-turut di Charleston, akhirnya ia berhasil menggenggam trofi.
“Saya pikir ketekunan saya adalah kunci kemenangan minggu ini. Khususnya di lapangan tanah liat, Anda harus memiliki ketahanan karena servis tidak begitu efektif,” jelas Pegula.
“Tidak banyak poin gratis, dan saya merasa memenangkan beberapa poin sulit atau permainan sulit bisa mengubah momentum pertandingan, dan saya berhasil melakukannya beberapa kali minggu ini,” lanjutnya.
“Hal ini tidak selalu terjadi setiap minggu, tetapi ketika Anda bisa melakukannya dan membawa pulang gelar, Anda pasti akan mengingat momen-momen penting itu,” kata Pegula.
Sementara itu, kekalahan tersebut memberikan beban emosional bagi Kenin yang memasuki final tanpa pernah kehilangan satu set pun dalam lima pertandingan sebelumnya.
Petenis asal Florida ini ingin mengakhiri paceklik gelar selama lima tahun yang dimulai sejak 2020, tahun di mana ia memenangkan Australian Open, dan mencapai peringkat tertinggi kariernya, No. 4 dunia. Kenin bermain di final lapangan tanah liat pertamanya sejak Roland Garros pada tahun yang sama.