Pertama di Indonesia, Medco Transformasi Tanker Menjadi FPSO untuk Proyek Forel dan Terubuk
Tangerang, Banten – PT Medco Energi Internasional Tbk (MedcoEnergi) menjadi yang pertama di Indonesia yang melakukan transformasi tanker minyak menjadi Floating Production, Storage, and Offloading (FPSO) untuk proyek migas Forel dan Terubuk.
“Marlin Natuna telah diubah dari tanker menjadi unit produksi, dan hampir seluruh pengerjaannya dilakukan oleh putra-putri Indonesia. Ini adalah pencapaian yang sangat membanggakan,” ujar Direktur & Chief Administrative Officer MedcoEnergi, Amri Siahaan, dalam acara IPA Convention & Exhibition di Tangerang, Banten, Selasa.
Proyek konversi Marlin Natuna menjadi FPSO adalah yang pertama di Indonesia. FPSO Marlin Natuna, dengan kapasitas produksi mencapai 250.000 barel, akan menyimpan minyak dari proyek Forel di Natuna, Kepulauan Riau (Kepri).
Amri menambahkan, prestasi ini layak diapresiasi karena mengubah tanker menjadi FPSO bukanlah tugas yang mudah. Ini adalah kali pertama dilakukan di Indonesia, dengan tenaga kerja sepenuhnya dari Indonesia.
“Ini adalah pencapaian perdana di Indonesia. Prosesnya sangat rumit, tetapi kami berhasil,” kata Amri.
Keberhasilan ini juga berkat dukungan masyarakat lokal yang berkontribusi dalam proyek Forel dan Terubuk.
Saat ini, MedcoEnergi mempekerjakan lebih dari 6.300 karyawan tetap dan 15.000 kontraktor, dengan 48 persen di antaranya adalah generasi milenial dan 21 persen posisi manajerial diisi oleh perempuan.
“Tidak mungkin kami bisa beroperasi tanpa dukungan dari masyarakat sekitar,” tambahnya.
Proyek Forel dan Terubuk oleh MedcoEnergi, yang hampir seluruhnya dikerjakan oleh SDM Indonesia, mendapat apresiasi dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
Ketika meresmikan proyek tersebut di Laut Natuna, Kepulauan Riau, Jumat (16/5), Bahlil menyatakan dengan bangga bahwa tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) proyek tersebut mencapai 100 persen.
“Proyek ini memiliki nilai strategis karena dimiliki dan dikerjakan oleh anak bangsa. Termasuk kapal FPSO pertama yang dibuat dengan 100 persen TKDN dari Indonesia,” kata Bahlil.
Lapangan migas Forel yang mulai beroperasi sejak 12 Mei 2025, telah memproduksi 10 ribu barel minyak per hari (BOPD) dan berpotensi mencapai 13.500 BOPD. Sementara itu, Lapangan Terubuk yang telah onstream sejak 24 April 2025 dengan kapasitas awal 4.000 BOPD, ditargetkan mencapai 6.500 BOPD dan 60 MMSCFD gas setelah fasilitas Terubuk M beroperasi pada Oktober mendatang.
Total tambahan kapasitas mencapai 30.000 BOEPD, dengan total investasi senilai 600 juta dolar AS atau sekitar Rp9,850 triliun (kurs Rp16.416).