Rupiah Tergelincir Akibat Kekhawatiran Perang Dagang yang Memanas
Sentimen global yang sedikit membaik hari ini tidak cukup untuk mendukung rupiah.
Jakarta (BERITA HARIAN ONLINE) – Lukman Leong, seorang analis dari Doo Financial Futures, menilai bahwa pelemahan nilai tukar rupiah dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap peningkatan ketegangan perang dagang.
“Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS di tengah kekhawatiran atas eskalasi perang dagang. Pelemahan ini merupakan hasil dari sentimen risk off di pasar selama liburan Lebaran lebih dari seminggu,” ucapnya di Jakarta, Selasa.
Nilai tukar rupiah pada akhir perdagangan hari ini di Jakarta turun 69 poin atau 0,41 persen menjadi Rp16.891 per dolar Amerika Serikat (AS) dari sebelumnya Rp16.822 per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) dari Bank Indonesia hari ini juga melemah ke Rp16.849 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.566 per dolar AS.
Baru-baru ini, Presiden AS Donald Trump mengancam akan memberlakukan tarif tambahan sebesar 50 persen atas impor dari China setelah negara tersebut memberlakukan tarif balasan sebesar 34 persen terhadap AS.
Jika China tidak menarik kenaikan tarif sebesar 34 persen hari ini, Trump akan mengenakan tarif tambahan sebesar 50 persen yang mulai berlaku pada Rabu (9/3). Selain itu, semua pembicaraan dengan China terkait permintaan pertemuan mereka dengan AS akan dihentikan.
Tarif 34 persen dari China yang berlaku per 10 April nanti merupakan tanggapan atas tarif balasan AS terhadap Beijing yang juga mengenakan tarif 34 persen.
Secara keseluruhan, tarif Pemerintah AS terhadap barang impor dari China mencapai 54 persen.
Sebelumnya, Trump telah menetapkan tarif tambahan 25 persen untuk mobil yang diproduksi di luar AS mulai 3 April 2025 serta tarif 25 persen pada semua impor baja dan aluminium.
Pemerintahan Trump juga telah menetapkan bea impor tambahan sebesar 20 persen terhadap barang-barang asal China.
Sementara itu, China telah mengumumkan tarif 15 persen untuk impor batu bara dan produk gas alam cair dari AS dari Februari hingga Maret. Ada juga tarif 10 persen untuk minyak mentah, mesin pertanian, dan mobil bermesin besar.
Selain itu, Beijing telah menetapkan tarif tambahan hingga 15 persen untuk impor produk pertanian utama AS, termasuk ayam, babi, kedelai, dan daging sapi.
Negara lain yang bertekad membalas kebijakan AS adalah Kanada. Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyatakan bahwa mereka akan menentang tarif ini dan bertekad membangun ekonomi terkuat di G7. Tarif sebesar 10 persen untuk barang-barang berdasarkan Perjanjian Amerika Serikat-Meksiko-Kanada (USMCA) berhasil dihindari Kanada, tetapi barang-barang lain yang tidak tercakup dalam perjanjian tersebut akan dikenakan tarif sebesar 25 persen dan 10 persen untuk energi dan kalium. Selain itu, tarif sebesar 25 persen untuk impor mobil asing, serta tarif sebesar 25 persen untuk baja dan aluminium Kanada masih berlaku.
Uni Eropa (UE) juga tengah mempersiapkan langkah balasan atas keputusan Trump untuk memberlakukan tarif 20 persen terhadap barang-barang asal Eropa. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyatakan bahwa mereka sedang merampungkan paket pertama langkah balasan terhadap tarif baja dan sedang mempersiapkan langkah lebih lanjut untuk melindungi kepentingan dan bisnis UE jika negosiasi gagal.
“Sentimen global yang sedikit membaik hari ini tidak cukup untuk mendukung rupiah,” tambah Lukman Leong.