Penguatan Rupiah Didukung Penurunan Ekspektasi Resesi di AS
Pasar mulai menurunkan sebagian besar prediksi terkait resesi di AS.
Jakarta (BERITA HARIAN ONLINE) – Ibrahim Assuabi, seorang pengamat mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka, mengamati bahwa apresiasi nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh menurunnya ekspektasi mengenai resesi di Amerika Serikat (AS).
Pada penutupan perdagangan hari Kamis di Jakarta, nilai tukar rupiah mengalami kenaikan sebesar 50 poin atau setara dengan 0,29 persen, mencapai Rp16.823 per dolar AS, dari posisi sebelumnya di Rp16.873 per dolar AS.
Indeks Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia juga menunjukkan penguatan, tercatat pada level Rp16.779 per dolar AS, dari sebelumnya Rp16.943 per dolar AS.
"Pasar mulai menurunkan sebagian prediksi terkait resesi di AS. Namun, prospek ekonomi dalam jangka pendek tetap tidak jelas, sebagaimana ditunjukkan dalam risalah rapat Maret Federal Reserve yang menggambarkan kekhawatiran para pembuat kebijakan terhadap inflasi yang meningkat dan pertumbuhan yang melambat," ujarnya dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Kamis.
Penurunan kekhawatiran akan resesi di AS ini turut dipengaruhi oleh pengumuman Presiden AS Donald Trump mengenai 75 negara yang akan mendapatkan penangguhan penerapan tarif selama 90 hari dari batas waktu yang sebelumnya ditetapkan pada Rabu (9/4). Sebelumnya, negara-negara tersebut dijadwalkan menghadapi tarif yang lebih tinggi dari batas dasar 10 persen, bahkan dalam beberapa kasus, tarifnya bisa jauh lebih tinggi.
Trump menyatakan bahwa penangguhan ini diberikan karena negara-negara tersebut telah berkomunikasi dengan mitra mereka di AS untuk mencari solusi terkait masalah perdagangan, hambatan dagang, tarif, manipulasi mata uang, dan tarif non-moneter.
Presiden AS juga menambahkan bahwa negara-negara tersebut tidak melakukan tindakan balasan terhadap AS "dalam bentuk apa pun."
"Meski kekhawatiran akan resesi berkurang setelah Trump mengumumkan perpanjangan 90 hari untuk pemberlakuan putaran tarif timbal balik terbarunya, pasar masih tetap waspada terhadap agenda kebijakannya, terutama mengingat perubahan sikapnya baru-baru ini terkait tarif. Perang dagang yang meningkat dengan Tiongkok juga menghadirkan hambatan ekonomi yang berkelanjutan bagi AS, mengingat negara tersebut masih menjadi mitra dagang utama," ujar Ibrahim.
Perang dagang semakin memanas setelah Trump menaikkan tarif impor terhadap produk-produk dari China menjadi 125 persen, sementara China juga mengenakan tarif sebesar 84 persen terhadap barang-barang dari AS.
"Baik Washington maupun Beijing tidak menunjukkan niat untuk mengurangi ketegangan, dengan pejabat Tiongkok bersumpah akan berjuang sampai akhir," tambahnya.