Site icon BERITA HARIAN ONLINE

Tokoh Madura di Kuala Lumpur Berkomitmen Awasi Kasus Pengeroyokan

tokoh madura di kuala lumpur sepakat kawal kasus pengeroyokan

Tokoh Madura di Kuala Lumpur Berkomitmen Awasi Kasus Pengeroyokan

Kuala Lumpur (BERITA HARIAN ONLINE) – Sejumlah tokoh masyarakat Madura di Kuala Lumpur mengadakan pertemuan setelah insiden pengeroyokan yang menimpa seorang warga Indonesia asal Sampang, Madura, oleh beberapa warga Bangladesh di Bangsar, Kuala Lumpur, Malaysia, pada Senin (14/7) lalu.

Pertemuan tersebut berlangsung pada Rabu (16/7) malam di kawasan Kajang, Kuala Lumpur, dengan dihadiri oleh perwakilan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur. Dalam pertemuan itu, disepakati untuk memantau dan menyerahkan penyelesaian kasus tersebut kepada otoritas hukum.

“Para tokoh masyarakat Madura di Malaysia mengadakan pertemuan terbatas di Kajang, Selangor, untuk merespons insiden pengeroyokan terhadap seorang WNI asal Madura oleh sekelompok warga Bangladesh di lokasi konstruksi Bangsar, Kuala Lumpur,” ungkap salah satu tokoh Madura, Ustadz Kholik kepada BERITA HARIAN ONLINE di Kuala Lumpur, Kamis.

Perwakilan KBRI Kuala Lumpur turut hadir dalam pertemuan tersebut, memberikan penjelasan langsung terkait langkah-langkah resmi yang telah diambil sejak awal kejadian, baik dari segi hukum maupun jalur diplomatik.

Dalam momen tersebut, para tokoh menekankan bahwa insiden ini tidak hanya soal kekerasan individu, melainkan juga menyentuh rasa keadilan dan martabat masyarakat Madura secara umum, serta menimbulkan kekhawatiran di kalangan perantau.

Para tokoh menyatakan bahwa kemarahan masyarakat Madura merupakan bentuk pembelaan terhadap harga diri. Namun, mereka juga sepakat bahwa amarah harus disalurkan dengan cara yang terhormat, bukan dengan tindakan gegabah.

Adapun hasil dan kesepakatan pertemuan tersebut mencakup:

1. Melakukan pengawasan ketat terhadap proses hukum, memastikan pelaku diproses secara adil dan kasus ini tidak berhenti di tengah jalan.

2. Mendorong KBRI untuk menyampaikan aspirasi ke Kedutaan Bangladesh di Kuala Lumpur agar menunjukkan tanggung jawab moral atas insiden ini. Aspirasi ini akan diteruskan kepada Duta Besar RI untuk Malaysia dan ditindaklanjuti sesuai jalur resmi dan etika diplomatik antarnegara.

3. Merencanakan kunjungan bersama ke lokasi kejadian sebagai bentuk dukungan moral kepada korban dan para pekerja WNI lainnya. Kunjungan ini akan dilakukan oleh para tokoh Madura bersama pihak KBRI dan akan dikoordinasikan secara resmi dengan Polis Diraja Malaysia (PDRM) untuk menjaga ketertiban dan keamanan.

4. Mengajak seluruh masyarakat Madura untuk menahan diri dan tidak melakukan tindakan sepihak, demi mencegah munculnya konflik baru atau aksi balasan yang dapat memperparah situasi. Para tokoh mengimbau agar masyarakat tetap tenang, menjauhi penyebaran informasi yang belum jelas sumbernya, dan menyampaikan keluhan atau aspirasi melalui saluran yang tepat. Menahan diri bukan berarti lemah, tetapi menunjukkan bahwa WNI, dalam hal ini masyarakat Madura, memiliki martabat dan mampu menjaga keselamatan sesama.

5. Menyerukan agar masyarakat Madura tetap bersatu dan saling menjaga sesama WNI di perantauan. Para tokoh menegaskan bahwa perjuangan menuntut keadilan harus dilakukan dengan kekuatan akal dan kebersamaan, bukan dengan kemarahan yang tidak terarah. Mereka menyatakan bahwa tindakan sendiri-sendiri dan tanpa arah hanya akan merugikan nama baik masyarakat Madura dan WNI di Malaysia.

Ustadz Kholik menyatakan bahwa pertemuan masyarakat Madura di Kuala Lumpur menunjukkan bahwa masyarakat Madura tidak akan tinggal diam jika kehormatannya diinjak.

Namun, pada saat yang bersamaan, masyarakat Madura memilih untuk melangkah dengan tenang, bersatu, dan bertanggung jawab, demi menjaga keselamatan bersama serta membela martabat melalui jalur yang sah dan bermartabat.

Kesepakatan itu disetujui bersama oleh para tokoh masyarakat Madura di Malaysia, dengan dukungan resmi dari perwakilan KBRI Kuala Lumpur.

Sebelumnya diberitakan bahwa seorang WNI asal Madura, Jawa Timur, menjadi korban pengeroyokan oleh sembilan warga negara Bangladesh di Bangsar, Kuala Lumpur, Senin (14/7), yang mengakibatkan korban harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Insiden ini bermula dari kesalahpahaman berupa teguran atas kebisingan di sebuah lokasi proyek, yang kemudian berujung pada percekcokan dan pengeroyokan terhadap WNI.

Insiden tersebut dilaporkan kepada KBRI dan Polis Diraja Malaysia (PDRM) daerah Brickfields, Kuala Lumpur. KBRI bertindak cepat dengan meredam kemarahan tokoh Madura dan WNI di Kuala Lumpur, dan menggagas segera diadakannya pertemuan tokoh Madura.

Sementara itu, Polisi Malaysia juga segera mengamankan sembilan terduga pelaku untuk diproses secara hukum.

Exit mobile version