Revitalisasi 155 SLB untuk Pendidikan Berkualitas oleh Kemendikdasmen
Indonesia masih menghadapi tantangan dalam pengembangan potensi anak berkebutuhan khusus
Jakarta (BERITA HARIAN ONLINE) – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah berupaya terus meningkatkan mutu pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dengan memperbaharui Sekolah Luar Biasa (SLB) melalui inisiatif Perbaikan Sarana dan Prasarana Pendidikan (PSPP).
Dalam keterangan tertulis di Jakarta pada Selasa, peluncuran program ini dilakukan bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang merupakan bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) yang diusung Presiden.
Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi PKPLK Kemendikdasmen, Saryadi, menyatakan bahwa tahun ini sekitar 155 SLB akan diperbarui lewat program PSPP tersebut.
“Indonesia masih menghadapi tantangan dalam pengembangan potensi anak berkebutuhan khusus. Dengan revitalisasi ini, ABK diharapkan dapat menikmati lingkungan belajar yang lebih nyaman dan mengembangkan potensi mereka,” ujar Saryadi.
Saryadi juga mengajak semua pihak untuk ikut serta dan memantau pelaksanaan program ini agar berjalan dengan baik.
Dengan begitu, pembangunan dapat diselesaikan dengan cepat dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar sekolah.
“Karena program ini bersifat swakelola, partisipasi masyarakat sangat penting dalam pelaksanaan dan pengawasan pembangunan. Masyarakat juga diharapkan mendapatkan keuntungan ekonomi, misalnya dengan bergabung menjadi pekerja dalam pembangunan ruang,” tambah Saryadi.
Di kesempatan yang sama, Kepala SLBN Slawi Provinsi Jawa Tengah, Ninik Basri Martini, mengungkapkan bahwa ruang pembelajaran khusus sangat diperlukan karena selama ini pembelajaran khusus, seperti Bina Diri dan Bina Wicara, masih dilakukan di ruang kelas biasa.
Selain itu, siswa tunarungu dan tunagrahita harus bergantian menggunakan ruangan untuk pembelajaran khusus karena terbatasnya ruang kelas.
“Kondisi ini sangat tidak efektif dan tidak nyaman bagi ABK dan membuat pencapaian pembelajaran menjadi kurang optimal,” kata Ninik.
Ia menjelaskan bahwa ruang Bina Diri berfungsi sebagai media pembelajaran dasar bagi anak tunagrahita yang berhubungan dengan kemampuan memelihara atau merawat diri, termasuk aktivitas dan keterampilan hidup sehari-hari.
Sementara itu, Ruang Bina Wicara merupakan ruang latihan berbicara perseorangan bagi peserta didik tunarungu, yang biasanya dirancang kedap suara dengan berbagai peralatan, seperti speech trainer unit, agar guru dapat memberikan pelatihan atau terapi bagi anak tunarungu dalam pengucapan kata.
Karena itu, program PSPP Kemendikdasmen memberikan dampak signifikan dalam mendukung kegiatan belajar mengajar untuk ABK.









