Home / Ekonomi / BI: Kerja Sama ‘Swap Agreement’ Perkuat Cadangan Devisa

BI: Kerja Sama ‘Swap Agreement’ Perkuat Cadangan Devisa

bi kerja sama swap agreement dukung penguatan cadangan devisa

BI: Kerja Sama ‘Swap Agreement’ Perkuat Cadangan Devisa

Jakarta (BERITA HARIAN ONLINE) – Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), mengungkapkan bahwa bank sentral Indonesia telah menjalin kemitraan bilateral swap agreement dengan sejumlah bank sentral dari negara lain untuk mendukung ekonomi nasional dan memperkuat cadangan devisa.

Saat ini, BI telah memiliki kesepakatan dengan beberapa bank sentral lainnya dalam bilateral swap agreement, termasuk dengan People’s Bank of China (PBOC), Monetary Authority of Singapore (MAS), Bank Negara Malaysia (BNM), dan Reserve Bank of Australia (RBA).

Ini (bilateral swap agreement menjadi salah satu) alasan kami bisa terus menjaga cadangan devisa pada level yang kuat, meskipun ada guncangan global yang besar.

Destry mengatakan pada acara ‘Outlook Ekonomi DPR’ di Jakarta, Selasa, bahwa meskipun tekanan global sangat besar, intervensi terus dilakukan di pasar saat terjadi fluktuasi yang signifikan.

Per April 2025, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar 152,5 miliar dolar AS, meskipun mengalami penurunan dari posisi akhir Maret 2025 yang sebesar 157,1 miliar dolar AS.

Cadangan devisa tersebut mencukupi untuk membiayai 6,4 bulan impor atau 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Melalui bilateral swap agreement, bank sentral dapat memperoleh valuta asing dari bank mitra dengan memperdagangkan mata uang lokal masing-masing.

Destry juga menyebutkan bahwa transaksi dengan mata uang lokal meningkat pesat di tengah fluktuasi nilai tukar dolar AS akibat ketidakpastian global.

Pelaku bisnis kini tidak hanya mengandalkan dolar AS untuk transaksi, tetapi juga menggunakan mata uang yang sesuai dengan mitra dagang mereka.

BI berkomitmen untuk terus mengoptimalkan kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran demi mendukung pertumbuhan dan stabilitas ekonomi.

Salah satu kebijakan moneter yang diterapkan adalah stabilisasi nilai tukar rupiah, terutama saat terjadi gejolak di pasar, seperti selama libur Lebaran. BI melakukan intervensi kombinasi, termasuk triple intervention pada transaksi spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), dan pembelian SBN di pasar sekunder, serta intervensi di pasar off-shore non-deliverable forward (NDF).

Beberapa hari terakhir, rupiah menguat dan berada di level Rp16.400-an per dolar AS, menunjukkan kepercayaan pasar yang mulai pulih.

Dari sisi kebijakan makroprudensial, BI terus mendorong optimalisasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM). Banyak bank telah menyalurkan kredit ke sektor-sektor prioritas seperti perumahan, hilirisasi, dan UMKM.

Bank bisa mendapatkan keringanan giro wajib minimum (GWM) sebesar 3-5 persen melalui kebijakan KLM, sehingga GWM yang seharusnya 9 persen bisa menjadi 4 persen. Hampir semua bank telah menikmati kebijakan likuiditas makroprudensial ini.

Dalam kebijakan sistem pembayaran, BI meningkatkan efisiensi dan cakupan pembayaran dengan memperluas transaksi lintas batas dengan beberapa negara, yang pada akhirnya meningkatkan transaksi ritel.

Tag:

Category List

Social Icons