IRA Memperkenalkan Simbol untuk Penyandang Disabilitas Tak Terlihat
Jakarta (BERITA HARIAN ONLINE) – Perhimpunan Reumatologi Indonesia (Indonesian Rheumatology Association/IRA) telah memperkenalkan simbol berupa lanyard untuk disabilitas tak terlihat yang berfungsi sebagai alat identifikasi sukarela. Tujuannya adalah untuk memudahkan akses dan memberikan perlakuan yang lebih manusiawi kepada penyintas di tempat umum.
Ketua Pengurus Pusat IRA, dr. Rudy Hidayat, SpPD, K-R, menekankan pentingnya inklusivitas bagi mereka yang memiliki disabilitas tak terlihat, yaitu keterbatasan fungsional pada fisik, mental, atau saraf yang tidak tampak secara kasat mata tetapi secara signifikan mempengaruhi kehidupan sehari-hari.
“Disabilitas yang tidak terlihat adalah sesuatu yang nyata. Kita harus menyadari dan mengakui bahwa keterbatasan fungsional seperti yang dialami oleh penyintas lupus dan kondisi autoimun sistemik lainnya perlu dihormati dan diperjuangkan hak-haknya,” ungkap Rudy saat acara peluncuran di Jakarta pada hari Minggu.
Rudy menyoroti pentingnya tanda pengenal bagi penyintas disabilitas tak terlihat karena sering kali mereka tidak mendapatkan perlakuan khusus di tempat umum atau transportasi publik karena penampilan fisik mereka tampak normal.
“Mereka mungkin terlihat sehat dan bahkan masih aktif bekerja, tetapi ada kalanya kondisi mereka menurun secara tiba-tiba, yang sering kali membuat disabilitas mereka tidak tampak,” ujarnya.
Dia berharap agar lanyard atau alat identifikasi ini dikenali dan dihargai oleh masyarakat luas, termasuk penyedia layanan transportasi dan fasilitas umum, untuk menciptakan layanan yang ramah bagi penyandang disabilitas tak terlihat.
Selain itu, dalam kesempatan yang sama, IRA mendukung pengenalan istilah “disabilitas tak terlihat” ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai langkah awal pengakuan yang kuat secara sosial maupun budaya terhadap para penyintas.
IRA juga menekankan pentingnya edukasi dan advokasi agar penyandang disabilitas tak terlihat dapat meningkatkan kualitas hidup mereka melalui pemenuhan hak-haknya.









