Home / Pendidikan / Memahami Potensi Kampus Berdampak bagi Komunitas

Memahami Potensi Kampus Berdampak bagi Komunitas

Memahami Potensi Kampus Berdampak bagi Komunitas

Besar atau kecilnya peran kampus ditentukan oleh seberapa besar kontribusinya di masyarakat

Jakarta (BERITA HARIAN ONLINE) – Kampanye Kampus Merdeka yang pernah gencar kini digantikan dengan slogan baru, Kampus Berdampak. Beberapa hari sebelum Hari Pendidikan Nasional, tepatnya pada 29 April, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mempresentasikan konsep ini kepada publik.

Sudah menjadi kebiasaan bahwa setiap pergantian menteri dan nomenklatur kementerian disertai dengan kebijakan baru.

Seluruh perguruan tinggi di Indonesia kini harus menyesuaikan diri dengan kebijakan terbaru ini. Menurut Kemendiktisaintek, Kampus Berdampak merupakan kelanjutan dari Kampus Merdeka. Kurikulum dan program tidak berubah, tetapi pelaksanaannya diserahkan kembali kepada masing-masing kampus.

Dalam konferensi pers, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Khairul Munadi menjelaskan bahwa Kampus Berdampak adalah sebuah paradigma baru untuk menjadikan pendidikan tinggi lebih berdaya dan relevan, serta agar pendidikan dapat berintegrasi dengan masyarakat, dunia usaha, dan industri, serta mendukung pembangunan nasional.

Perguruan tinggi diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang dapat mengatasi masalah masyarakat, menawarkan solusi dan pemberdayaan, serta menciptakan inovasi dan teknologi untuk keberlanjutan hidup yang lebih baik.

Pendidikan tinggi tidak hanya menghasilkan individu berpendidikan dengan gelar, ilmu, dan keterampilan pragmatis dan materialistis. Sebaliknya, kampus harus membekali mahasiswa dengan nilai-nilai kemanusiaan, kebangsaan, keadilan sosial, dan etika luhur, sesuai dengan visi Ki Hajar Dewantara, salah satu pelopor pendidikan di Indonesia.

Selama tiga tahun terakhir, penulis melihat pentingnya keterlibatan langsung di masyarakat sebagai bagian dari proses pembelajaran di kampus. Hal ini tampak dalam mata kuliah yang saya ajarkan, seperti kesehatan mental komunitas, serta asesmen dan intervensi komunitas.

Mata kuliah ini mengharuskan mahasiswa membentuk komunitas, menentukan lokasi, terjun ke lapangan, melakukan wawancara dan observasi tentang masalah kesehatan mental di masyarakat, dan kemudian merancang serta melaksanakan intervensi psikologi di masyarakat.

Berbagai isu diangkat oleh mahasiswa, mulai dari pernikahan dini, prostitusi, anak yang berhadapan dengan hukum, anak terlantar dan dhuafa, suku anak dalam, pendidikan di sekolah terpencil, kekerasan seksual, bullying, adiksi narkoba dan game online, disfungsi keluarga, dan masalah sosial lainnya.

Bagi mahasiswa yang merupakan bagian dari generasi Z, pengalaman belajar langsung di lapangan adalah hal baru yang memikat dan menantang. Mereka bersemangat setiap kali terjun ke lapangan, karena berhadapan langsung dengan kehidupan nyata, tidak hanya mendengarkan ceramah di kelas.

Mereka memerlukan ruang untuk eksplorasi dan kehadiran dosen untuk berdiskusi tentang visi, misi, dan program yang akan mereka jalankan. Dosen juga harus menyediakan waktu untuk mendampingi mahasiswa dalam mengasah logika, mengedukasi mereka agar cerdas tetapi juga peduli dan membumi.

Kurikulum yang Berdampak

Sejak tahun 2020, pendidikan tinggi di Indonesia telah mengembangkan kurikulum berbasis hasil (outcomes based education). Model kurikulum ini berlandaskan pada profil lulusan dan capaian pembelajaran, kemudian dituangkan dalam rencana pembelajaran semester, bahan ajar, serta penilaian dan evaluasi.

Berdasarkan kurikulum ini, mahasiswa diharapkan memiliki pengetahuan, keterampilan umum dan khusus, serta sikap. Apa yang diperoleh mahasiswa selama masa studi sangat bergantung pada tujuan yang ingin dicapai sesuai dengan profil lulusan di program studi yang mereka ikuti.

Misalnya, pada program studi psikologi di Universitas Jambi, salah satu tujuan akhirnya adalah menjadi fasilitator komunitas, sehingga pembelajaran dirancang untuk mendukung kompetensi tersebut. Mata kuliah kesehatan mental komunitas serta asesmen dan intervensi komunitas adalah hasil dari tujuan dan profil lulusan tersebut.

Mahasiswa juga didorong untuk belajar langsung melalui pendekatan pembelajaran berbasis proyek dan tantangan, yang juga disesuaikan dengan kurikulum berbasis hasil.

Untuk mencapai pembelajaran ideal dengan pendekatan berbasis proyek, kampus menyediakan pembelajaran yang berfokus pada tugas-tugas relevan dengan dunia nyata, membangun kolaborasi dan jaringan, menciptakan produk dan karya inovatif, serta berpikir strategis dan reflektif.

Sementara itu, pembelajaran berbasis tantangan menuntut mahasiswa memiliki ketahanan menghadapi perubahan zaman, menjadi agen perubahan yang berpikir solutif dan terlibat dalam agenda sosial, serta mampu mengatasi tekanan dan rintangan.

Integrasi Kampus dan Komunitas

Kampus Berdampak tidak boleh hanya menjadi slogan sementara, tetapi harus dilihat sebagai keseriusan pemerintah untuk membentuk pendidikan yang terintegrasi dengan kehidupan masyarakat.

Kampus bukanlah entitas yang terpisah dari masyarakat. Keberadaannya dinilai dari seberapa besar kontribusinya terhadap komunitas. Integrasi ini merupakan hubungan antara teori dan praktik, serta antara penciptaan pengetahuan dan penerapannya dalam konteks sosial.

Koneksi antara kampus dan masyarakat harus terwujud dalam bentuk pendidikan yang menghargai kebebasan berpikir, keterbukaan dalam menyampaikan aspirasi, budaya demokrasi, dan kemampuan menjadi mediator antar pihak.

Kampus juga perlu menerapkan pembelajaran yang holistik, dengan menekankan berbagai aspek, bukan hanya intelektual, tetapi juga sosial, emosional, fisik, kreativitas dan inovasi, serta spiritual. Tujuannya untuk mendidik manusia yang utuh dan seimbang, tidak hanya cerdas secara akademis.

Maria Montessori, seorang pemikir dan dokter asal Italia, mengatakan bahwa pembelajaran holistik memandang potensi belajar datang secara alami sejak anak-anak yang diberi kebebasan untuk memilih minat dan bakat sesuai fase hidup mereka.

Selain itu, pembelajaran holistik mendorong belajar mandiri yang disesuaikan dengan lingkungan, pengalaman konkrit, pembelajaran tentang etika, disiplin diri, tanggung jawab sosial, dan rasa hormat terhadap orang lain dan lingkungan, serta mengajarkan peserta didik kesadaran dan tanggung jawab.

Menutup peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini, kita diajak berefleksi tentang sejauh mana pendidikan berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat, sejauh mana pembelajaran, penelitian, dan pengabdian di kampus memberikan kesempatan bagi dosen dan mahasiswa untuk terlibat langsung dalam menjadi pelita peradaban dan perubahan.

*) Agung Iranda adalah Dosen Universitas Jambi dan Koordinator Rumah Progresif

Tag:

Category List

Social Icons