Home / Ekonomi / Surplus Perdagangan: Indikator Positif Daya Saing Ekspor

Surplus Perdagangan: Indikator Positif Daya Saing Ekspor

anggota dpr sebut surplus dagang jadi sinyal positif daya saing ekspor

Surplus Perdagangan: Indikator Positif Daya Saing Ekspor

Jakarta (BERITA HARIAN ONLINE) – Anggota Komisi VI DPR RI, Ahmad Labib, berpendapat bahwa surplus neraca perdagangan pada Juni 2025 yang mencapai 4,10 miliar dolar AS, menandai 62 bulan berturut-turut surplus sejak Mei 2020, adalah indikator positif bagi daya saing ekspor nasional.

Labib mengingatkan bahwa angka surplus tersebut perlu dipahami secara menyeluruh dan seimbang, karena masih bergantung pada ekspor komoditas mentah dan setengah jadi, bukan dari sektor manufaktur yang memiliki nilai tambah tinggi.

‘Surplus perdagangan adalah berita baik, tetapi kita juga harus realistis,’ ujar Labib di Jakarta, Selasa.

Ia menunjukkan bahwa sektor non-migas seperti lemak dan minyak nabati, batu bara, serta besi dan baja merupakan pilar utama surplus, sementara sektor migas mencatat defisit besar sebesar 8,83 miliar dolar AS pada semester I 2025.

‘Ketergantungan pada impor energi menunjukkan bahwa fondasi ketahanan ekonomi kita masih lemah. Ini harus menjadi perhatian utama dalam perencanaan strategis industri dan energi nasional,’ tambahnya.

Di sisi lain, dia menyoroti ketidakseimbangan dalam hubungan dagang, terutama dengan negara seperti Tiongkok, di mana Indonesia mengalami defisit sebesar 9,73 miliar dolar AS. Hal ini, menurutnya, menggambarkan ketergantungan Indonesia pada barang modal, bahan baku industri, dan produk manufaktur impor.

‘Selama kita belum bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri melalui produksi lokal, surplus perdagangan akan terus dibayangi oleh kerentanan struktural,’ tuturnya.

Meski demikian, dia memuji keberhasilan Indonesia dalam memperkuat posisi di pasar global, terutama dengan mitra dagang seperti Amerika Serikat, India, dan Filipina, yang memberikan surplus signifikan.

Dia mendesak pemerintah untuk menjadikan momen surplus perdagangan ini sebagai titik awal untuk mendorong transformasi industri nasional yang tangguh dan berkelanjutan.

Menurutnya, strategi yang harus ditempuh meliputi penguatan sektor manufaktur bernilai tambah tinggi, peningkatan kapasitas industri substitusi impor untuk mengurangi ketergantungan luar negeri, diversifikasi ekspor guna menghadapi volatilitas harga komoditas global, serta percepatan hilirisasi sumber daya alam dengan pendekatan berbasis teknologi dan riset.

‘Kita membutuhkan strategi jangka panjang, bukan sekadar mengejar angka surplus. Surplus perdagangan yang sehat harus mencerminkan kemandirian ekonomi, daya saing industri, dan ketahanan terhadap gejolak global,’ katanya.

Tag:

Category List

Social Icons