Home / Politik / Bamsoet: Hari Kelahiran Pancasila sebagai Saat untuk Merenungkan Peran Memelihara Persatuan

Bamsoet: Hari Kelahiran Pancasila sebagai Saat untuk Merenungkan Peran Memelihara Persatuan

bamsoet hari lahir pancasila momentum refleksi peran jaga persatuan

Bamsoet: Hari Kelahiran Pancasila sebagai Saat untuk Merenungkan Peran Memelihara Persatuan

Jakarta (BERITA HARIAN ONLINE) – Bambang Soesatyo, anggota Komisi III DPR RI, menekankan pentingnya Hari Kelahiran Pancasila pada tanggal 1 Juni bukan hanya sebagai acara seremonial, tetapi juga sebagai kesempatan untuk merenungkan kembali peran setiap individu dalam menjaga persatuan bangsa.

Bamsoet, sapaan akrabnya, menyatakan, “Perayaan hari kelahiran Pancasila tidak boleh hanya sebatas seremoni saja. Seharusnya menjadi waktu untuk merefleksikan peran tiap individu dalam memelihara persatuan bangsa, terutama di dunia digital yang kini menjadi medan baru bagi perjuangan nilai,” dalam pernyataannya yang diterima di Jakarta, Minggu.

Ia menambahkan bahwa merayakan Pancasila berarti menanamkan semangat persatuan dalam kehidupan sehari-hari, meskipun terdapat perbedaan suku, agama, pilihan politik, atau preferensi budaya.

“Kita tetap satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa: Indonesia,” tegasnya.

Mantan Ketua DPR dan MPR ini juga menyebutkan bahwa peringatan hari lahir Pancasila adalah momen penting bagi masyarakat Indonesia untuk merenungkan kembali nilai-nilai dasar dalam ideologi bangsa tersebut.

Terlebih lagi, katanya, tantangan untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa semakin kompleks di era informasi yang bergerak cepat melalui media digital.

Untuk itu, ia menekankan bahwa nilai-nilai dalam lima sila Pancasila yang menyatukan seluruh elemen masyarakat Indonesia harus diinternalisasi dalam setiap interaksi di ruang digital.

“Fenomena ‘echo chamber’ dan algoritma yang menyajikan informasi sesuai preferensi pengguna telah mempersempit ruang dialog dan memperlebar jurang perbedaan. Dalam konteks ini, nilai-nilai Pancasila, terutama sila ketiga yaitu ‘Persatuan Indonesia’, sangat relevan untuk ditegakkan kembali, terutama di dunia digital,” jelasnya.

Ia juga menyoroti tantangan lain yang perlu diperhatikan, yakni ancaman disinformasi dari luar negeri yang dimanfaatkan untuk mengganggu stabilitas nasional.

Menurutnya, Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia memiliki posisi strategis dalam konteks geopolitik global, dan ruang digital Indonesia bukanlah ruang yang steril.

Oleh karena itu, ia menekankan bahwa memperkuat nilai-nilai Pancasila, terutama semangat persatuan, juga menjadi bagian dari ketahanan nasional di era digital.

“Ketahanan ini hanya akan kuat jika masyarakat memiliki kesadaran kolektif bahwa identitas digital kita adalah bagian dari identitas kebangsaan,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa seluruh elemen bangsa memiliki peran penting sebagai penjaga nilai Pancasila dan harus aktif dalam merajut persatuan di era digital, terutama generasi muda yang mendominasi demografi pengguna internet.

“Dalam setiap unggahan, komentar, dan interaksi daring, ada ruang untuk merefleksikan apakah tindakan tersebut memperkuat atau merusak nilai-nilai persatuan,” katanya.

Sebab, lanjutnya, nasionalisme di era digital bukan lagi soal berperang di medan perang, melainkan menjaga ruang digital dari perpecahan, menjaga wacana dari kebencian, serta merawat kebhinekaan melalui literasi dan etika bermedia.

Selain itu, ia mengingatkan bahwa pengajaran Pancasila tidak cukup hanya melalui buku teks dan hafalan sila, tetapi dengan pendekatan yang kontekstual dan kreatif. Misalnya, melalui film pendek, vlog edukatif, atau kampanye media sosial yang menyajikan narasi kebangsaan.

“Beberapa komunitas daerah telah memulai ini dengan memproduksi konten edukatif berbahasa daerah untuk memperkuat jati diri lokal sambil menjembatani rasa kebangsaan. Inilah bentuk nyata dari semboyan ‘Bhinneka Tunggal Ika’ yang hidup di dunia maya,” tambahnya.

Tag:

Category List

Social Icons