Bekasi: Kisah Sukses Peternakan BBS
Ahmad Jupri, pemilik Peternakan Berkah Bersama Sejahtera (BBS), mengisahkan perjalanan bisnis peternakannya yang kini memiliki aset mencapai Rp80 miliar.
“Peternakan ini kami mulai tahun 2005, tepat setelah saya menyelesaikan studi di Fakultas Ekonomi dengan gelar sarjana akuntansi. Ketika teman-teman sibuk mencari pekerjaan, saya memilih untuk menjadi petani, peternak, dan menggembala,” ujarnya saat wawancara di Peternakan BBS, Bekasi, Jawa Barat.
Jupri terinspirasi untuk terjun ke dunia peternakan oleh dua motivasi utama. Pertama, informasi dari Yogyakarta menunjukkan bahwa industri peternakan memiliki potensi bisnis besar dengan perputaran uang yang signifikan.
Kedua, diskusi dengan mahasiswa Australia mengungkapkan bahwa banyak anak Indonesia mengalami kekurangan gizi akibat minimnya konsumsi daging merah.
Didukung oleh motivasi tersebut, ia memulai peternakan sapi dengan modal Rp20 juta dan tujuh ekor sapi pada tahun 2005. Dua dekade berlalu, kini peternakannya memiliki hampir seribu ekor sapi di lahan seluas 2 hektar.
Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota Bekasi telah mengakui Peternakan BBS sebagai yang terbesar dan terbersih di daerahnya. Pengakuan juga datang dari Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian yang telah berkunjung ke sana.
Jupri menjelaskan bahwa sapi-sapinya mendapatkan perawatan terbaik untuk memastikan kenyamanan dan kesehatan mereka. Semua sapi telah dilengkapi ear tag, divaksin, dan bebas dari penyakit mulut dan kuku serta lumpy skin diseases (LSD).
Setiap tahun, peternakan BBS menyiapkan 800 hingga 1.000 ekor sapi menjelang Idul Adha. Pada tahun ini, sembilan hari sebelum Idul Adha, lebih dari 80 persen dari 1.000 sapi telah terjual.
Di masa lalu, penjualan sapi jumbo mungkin hanya mencapai 10 ekor, namun kini telah melampaui 80 ekor. Sapi-sapi unggulan ini dirawat selama 11 bulan, sementara sapi berukuran kecil hanya dipelihara selama 2-3 bulan.
Peternakan BBS menawarkan berbagai jenis sapi seperti simmental, limosin, peranakan ongole (PO), pegon, brahman cross (BX), Bali, Kupang, dan Madura.
“Kami mendapatkan sumber dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Bali, dan NTT (Nusa Tenggara Timur). Hampir semua jenis ada di sini,” tambahnya.
Pelanggan biasanya mencari sapi Bali, Kupang, atau pegon yang harganya antara Rp25 juta hingga Rp28 juta dengan berat minimal 280 kilogram (kg). Sapi termahal bisa mencapai harga Rp115 juta dengan berat 1 ton 15 kg.
Perawatan dan pemberian makan sapi dilakukan secara normatif, mulai dari memandikan sapi satu per satu hingga memberi makan onggok, comboran, ampas tahu, dedak, dan jerami sebanyak 5-6 kali sehari.
Jupri berharap melalui Peternakan BBS, pendapatan akan terus meningkat, memberikan kesejahteraan bagi 30 anak muda yang bekerja di sana, dan memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa bisnis sapi adalah usaha yang menguntungkan.
“Awalnya kami hanya memiliki modal Rp20 juta. Setelah 20 tahun, aset kami dalam bentuk barang bergerak mencapai Rp80 miliar. Saya ingin menunjukkan kepada teman-teman dan mahasiswa bahwa bisnis ini menguntungkan dan menjanjikan,” ungkap Jupri.









