Kepergian Sang ‘Riffmeister’ dari Seringai, Ricky Siahaan
Jakarta (BERITA HARIAN ONLINE) – Kabar kehilangan menyelimuti band metal ikonik Seringai yang harus merelakan sang ‘riffmeister’, Ricky Siahaan yang telah berpulang.
Ia dikenal sebagai salah satu pelopor dalam dunia musik keras di Indonesia. Tak hanya menjadi gitaris dengan ciri khas riff yang mengesankan bersama Seringai, Ricky juga pernah berkarier sebagai jurnalis musik terkemuka.
Lahir di Tanjung Pandan, Belitung pada 5 Mei 1976, Ricardo Bisuk Juara Siahaan atau lebih akrab dipanggil Ricky, adalah sosok yang mencintai musik cadas.
Ricky amat menyukai musik metal melalui band-band seperti Mötley Crüe, Iron Maiden, dan Metallica.
Kegemarannya pada musik semakin berkembang saat ia duduk di bangku sekolah menengah, di mana ia mulai mendalami permainan gitar.
Ricky memulai perjalanan di dunia musik dengan membentuk band bernama Chapter 69 pada 1995, bersama dua teman sekolahnya, Deddy Mahendra Desta dan Cliff Rompies. Dari sinilah ia mulai berinteraksi dengan berbagai band dan komunitas musik.
Ricky pernah bergabung dengan band hardcore Buried Alive, dan pada 1999 ia menjadi gitaris Stepforward yang merilis album ‘Stories of Undying Hope’ pada 2001.
Pada 2002, Ricky dan Arian Arifin (Arian13) yang memiliki selera musik yang sama membentuk band Seringai.
Band ini terdiri dari Arian13 sebagai vokalis, Edy Khemod sebagai drummer, Ricky Siahaan sebagai gitaris, dan Toan sebagai pemain bass yang kemudian digantikan oleh Sammy Bramantyo.
Ricky tidak hanya berperan sebagai gitaris dalam Seringai, tetapi juga sebagai komposer dan produser. Mereka telah menghasilkan satu mini album (EP) berjudul ‘High Octane Rock’ pada 2004, serta tiga album lengkap yaitu ‘Serigala Militia’ (2007), ‘Taring’ (2012), dan ‘Seperti Api’ (2018).
Perjalanan musik Seringai tidak hanya dikenal di dalam negeri tetapi juga di luar negeri. Mereka pernah menjadi band pembuka untuk konser Metallica di Jakarta pada 2013, sebuah pencapaian besar bagi mereka.
Ricky juga pernah bekerja di industri media sebagai produser di stasiun radio MTV On Sky yang kini dikenal sebagai Trax FM pada 2002.
Ia kemudian menjadi editor di majalah Rolling Stone Indonesia pada 2005 dan menjabat sebagai managing editor hingga majalah tersebut tutup pada 2017.
Sir Dandy, musisi dari band Teenage Death Star, mengenang Ricky Siahaan sebagai sosok yang menunjukkan bagaimana musisi di Jakarta tidak hanya berkutat di dunia musik tetapi juga bekerja di berbagai bidang, memberi banyak inspirasi positif.
Selain dikenal sebagai gitaris Seringai, Ricky juga diingat sebagai pribadi yang menginspirasi yang sempat aktif sebagai jurnalis musik.
Personel band Homicide mengenang Ricky sebagai seorang yang tidak hanya berkontribusi besar dalam musik, tetapi juga mendukung band-band baru, salah satunya melalui tulisannya sebagai jurnalis.
Ricky Siahaan meninggalkan jejak musikal yang kuat sebagai penulis lagu dan gitaris Seringai dengan riff-riff tajam yang khas.
Menurut Dochi Sadega, vokalis dari band Pee Wee Gaskins, Ricky dikenal dengan julukan ‘riffmeister’ karena suara gitarnya yang berat.
‘Seringai hanya memerlukan satu gitaris untuk menghasilkan suara seberat itu, tidak perlu dua gitaris,’ ujarnya di Jakarta.
Ricky Siahaan meninggal pada usia 48 tahun pada Sabtu, 19 April 2025 pukul 21.30 di Tokyo, Jepang.
Menurut keterangan resmi dari tim medis setempat, almarhum mengalami serangan jantung tak lama setelah tampil bersama Seringai dalam acara Gekiko Fest, bagian dari rangkaian Wolves of East Asia Tour 2025 di Taiwan dan Jepang.
Jenazah Ricky Siahaan akan dimakamkan di Pemakaman San Diego Hills pada Sabtu, 26 April 2025.
‘Selamat jalan chainsaw, riffmeister, sampai kita berjumpa kembali. Selalu, selalu, selamanya,’ tulis unggahan Seringai di media sosial mereka.







