Home / Ekonomi / BPS: Kebijakan Tarif AS Berpotensi Pengaruhi Ekspor Jawa Barat

BPS: Kebijakan Tarif AS Berpotensi Pengaruhi Ekspor Jawa Barat

bps efek tarif trump berpotensi ganggu ekspor jabar

BPS: Kebijakan Tarif AS Berpotensi Pengaruhi Ekspor Jawa Barat

Bandung (BERITA HARIAN ONLINE) – Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat menyatakan bahwa kebijakan tarif impor yang baru diterapkan oleh Amerika Serikat, yang dikenal sebagai ‘Tarif Trump’, dapat mempengaruhi kinerja ekspor Jawa Barat, meskipun hingga kini dampak dari tarif baru tersebut belum terlihat jelas.

Plt Kepala BPS Jawa Barat, Darwis Sitorus, menjelaskan bahwa penerapan tarif impor sebesar 32 persen oleh Amerika Serikat terhadap produk dari berbagai negara, termasuk Indonesia, berpotensi mempengaruhi berbagai sektor, termasuk lapangan kerja di Jawa Barat. Hal ini disebabkan karena selama ini Amerika Serikat adalah salah satu tujuan utama ekspor Jawa Barat, di mana neraca perdagangan sering kali menunjukkan surplus, dengan surplus sekitar 478,67 juta dolar AS tercatat hingga Maret 2025.

“Jika kebijakan ini diterapkan, dampaknya bisa sangat signifikan bagi Jawa Barat, mengingat bahwa beberapa produk ekspor utama dari Jawa Barat adalah ke Amerika Serikat, seperti produk rajutan, alas kaki, dan karet. Kita dapat membayangkan dampaknya pada jutaan warga Jawa Barat yang bekerja di sektor industri yang berhubungan dengan ekspor ke AS,” ujar Darwis.

Salah satu hal yang diharapkan dalam menanggapi permasalahan tarif impor yang diberlakukan oleh Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Trump adalah keberhasilan negosiasi yang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto untuk meninjau kembali kebijakan tersebut.

“Harapan kami, perundingan yang akan dilaksanakan oleh Pak Prabowo, seperti yang disampaikan saat panen raya di Majalengka, adalah agar kebijakan ini dapat ditinjau kembali. Kami berdoa agar negosiasi ini dapat menguntungkan kedua belah pihak,” tambahnya.

Selain itu, dia juga berharap agar pemerintah dapat membuka pasar-pasar baru bagi industri berbasis ekspor, terutama di negara-negara yang memerlukan penyeimbangan neraca perdagangan.

Ia mencontohkan bahwa negara seperti China dan Taiwan masih mengalami defisit dan bisa menjadi tujuan ekspor baru atau dikembangkan lebih lanjut.

Darwis menyebut bahwa defisit perdagangan dengan China tercatat sebesar 62,14 juta dolar AS, sementara dengan Taiwan sebesar 7,01 juta dolar AS.

“Ini bisa menjadi peluang yang menarik. Kami berharap ada kebijakan perdagangan yang lebih seimbang dengan negara-negara di mana kita masih mengalami defisit neraca perdagangan, seperti Tiongkok dan Taiwan,” ungkapnya.

Dia juga berharap agar pemerintah dapat membuka pasar-pasar baru untuk produk ekspor Indonesia ke negara-negara tetangga di Asia Tenggara.

“Sejauh ini, ekspor Indonesia ke negara-negara tetangga seperti Filipina, Thailand, dan Vietnam menunjukkan surplus. Kita bisa membuka pasar ke negara-negara yang memiliki kedekatan historis seperti Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura untuk memperluas pasar ekspor kita,” katanya.

Presiden AS Donald Trump pada hari Rabu (2/4) mengumumkan kombinasi tarif universal dan timbal balik yang akan diberlakukan terhadap berbagai negara di dunia.

Trump menyatakan bahwa tarif dasar sebesar 10 persen akan diterapkan pada semua negara, sementara tarif tambahan ‘timbal balik’ akan diberlakukan pada mitra dagang tertentu, termasuk tarif sebesar 34 persen untuk China, 20 persen untuk Eropa, 46 persen untuk Vietnam, 32 persen untuk Taiwan, 24 persen untuk Jepang, dan 32 persen untuk Indonesia.

Tag:

Category List

Social Icons