Aksi Ojol 20 Mei, Ekonom: Pemerintah Harus Buka Peluang Kerja Formal
Tugas pemerintah adalah membangun industri untuk menciptakan pekerjaan formal, bukan memperbesar sektor informal.
Jakarta (BERITA HARIAN ONLINE) – Ekonom Fithra Faisal Hastiadi menyarankan agar pemerintah lebih fokus pada pembukaan lapangan pekerjaan formal secara besar-besaran untuk menanggapi aksi demonstrasi yang akan dilakukan oleh pengemudi ojek online (ojol) pada Selasa (20/5).
"Peran pemerintah adalah membangun industri guna menciptakan pekerjaan di sektor formal, bukan memperlebar sektor informal," ujar Fithra dalam diskusi bertema, "Dinamika Industri On-Demand di Indonesia: Status Mitra Pengemudi dan Komisi", di Jakarta, Senin.
Fithra menjelaskan bahwa platform ojol sebenarnya merupakan penyangga ekonomi, bukan pekerjaan jangka panjang. Jika status ‘mitra’ pengemudi ojol diubah menjadi ‘pekerja tetap’, saat ini Fithra yakin akan ada biaya tambahan yang harus ditanggung oleh aplikator.
Masalahnya, tambah dia, biaya ekstra ini dapat mendorong aplikator untuk meninggalkan Indonesia dan mencari negara dengan sistem yang lebih bersahabat.
"Jika ini terjadi, maka akan menciptakan situasi tenaga kerja yang lebih rumit. Tidak ada penyangga, dan sektor formalnya semakin mengecil," jelas Ekonom Senior Samuel Sekuritas Indonesia tersebut.
Oleh karena itu, sementara pemerintah masih berusaha membuka lapangan pekerjaan di sektor formal, sebaiknya platform ojol tetap berfungsi sebagai penyangga sementara, bukan pekerjaan permanen.
Mengubah platform ojol menjadi pekerjaan permanen, menurut Fithra, justru akan membuat ekonomi Indonesia tidak stabil. Sektor informal bersifat rapuh dan rentan, sehingga yang perlu dilakukan adalah memperbesar ekosistem formal.
"Jangan sampai sistem yang sebenarnya bersifat sementara ini dianggap permanen, sehingga menimbulkan kondisi yang tidak berkelanjutan, dan ekonomi kita bisa terguncang," tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Chief of Public Affairs Grab Indonesia, Tirza Munusamy, menyatakan bahwa jika status ‘mitra’ pengemudi ojol diubah menjadi ‘pekerja tetap’, ada berbagai tantangan yang dihadapi ojol, seperti penurunan jumlah pengemudi karena aplikator tidak mampu menyerap pengemudi secara maksimal dalam status pekerja tetap.
Dalam menjalankan peran sebagai pengemudi, akan ada hak dan kewajiban pekerja, kriteria, dan persyaratan lain yang membuat tidak semua orang bisa menjadi ojol.
Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), terutama di sektor makanan dan minuman, juga akan terkena dampak jika jumlah pengemudi ojol berkurang, karena layanan kurir atau antar makanan menjadi penghubung antara UMKM dan masyarakat.
"Kami melihat dampaknya (perubahan status mitra menjadi pekerja tetap) cukup signifikan dan justru bisa merugikan mereka (pengemudi ojol)," kata Tirza.









