Indonesia Berupaya Ekspansi Pasar ke Berbagai Negara
Kelima negara tujuan tersebut memiliki peran penting dalam memperluas akses pasar baru bagi Indonesia
Jakarta (BERITA HARIAN ONLINE) – Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri menyatakan bahwa Indonesia giat dalam mendiversifikasi pasar atau memperluas ekspornya ke Kanada, Uni Eropa, Iran, Jepang, dan Peru.
“Kelima negara tujuan tersebut memiliki peran penting dalam memperluas akses pasar baru bagi Indonesia,” ungkap Dyah dalam “Public Forum: Regional Response to Trump 2.0” yang diadakan oleh CSIS Indonesia, dipantau dari Jakarta, Kamis.
Langkah agresif ini ditandai dengan penyelesaian kesepakatan perdagangan bebas oleh Indonesia, yaitu Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA); Indonesia-Peru CEPA; Indonesia-EU CEPA; Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA); dan Indonesia-Iran Preferential Trade Agreement (II-PTA).
Ekspansi pasar ke Kanada didukung oleh meningkatnya permintaan untuk produk bersertifikat halal, makanan laut, agrikultur, hingga tekstil.
Mengenai kerja sama dengan Peru, Indonesia melihatnya sebagai pintu gerbang untuk menembus pasar Amerika Latin. Di kawasan tersebut, jelas Dyah, Indonesia dapat memperluas ekspornya di sektor kelapa sawit, karet, farmasi, makanan olahan, tekstil, dan lainnya.
“Tidak kalah penting, ada juga Indonesia-EU CEPA. Ini merupakan kerja sama perdagangan yang sangat ambisius,” ujar Dyah.
Dengan proyeksi PDB sebesar 18,6 triliun dolar AS, Uni Eropa adalah salah satu pasar konsumen paling maju di dunia. Melalui kerja sama ini, Indonesia ingin memperluas ekspor furnitur, tekstil, teknologi energi terbarukan, dan produk ekonomi hijau.
Untuk perdagangan di kawasan Asia Pasifik, Indonesia menjalin kemitraan ekonomi dengan Jepang. Ekonomi Jepang, tuturnya, masih mengandalkan impor bahan baku dan barang setengah jadi.
“Ini adalah peluang yang ingin kami eksplorasi lebih lanjut,” katanya.
Adapun kerja sama dengan Iran, Dyah mengungkapkan bahwa negara tersebut menunjukkan minat yang kuat terhadap produk halal dari Indonesia, meskipun ada sanksi yang sedang berlangsung.
Menurut Dyah, melalui kerja sama dengan Iran, pemerintah berupaya memastikan adanya pengurangan hambatan tarif yang memudahkan berbisnis di kawasan Timur Tengah.
“Indonesia-Iran PTA menawarkan akses ke pasar yang kompleks namun menjanjikan,” ujar Dyah.
Dyah menekankan bahwa ekspansi pasar ini telah lama menjadi strategi Indonesia, bahkan sebelum Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif resiprokal kepada sejumlah negara, termasuk Indonesia.
Diversifikasi pasar ini, menurut Dyah, merupakan strategi untuk memperluas akses pasar, meningkatkan ketahanan perdagangan, dan menjadi stimulus bagi penciptaan lapangan kerja.
“Jadi, bukan sebagai respons terhadap tarif dari AS, melainkan sudah direncanakan jauh sebelum isu itu muncul,” kata Dyah.









