Iran Tegaskan Kepatuhan pada Traktat Nuklir, Buka Peluang Dialog dengan AS
Ankara (BERITA HARIAN ONLINE) – Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran, pada Sabtu (12/7) menegaskan bahwa Iran berkomitmen pada Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT), seraya menyatakan bahwa “program nuklir Iran sejak awal bersifat damai dan akan terus demikian.”
Araghchi menegaskan bahwa Iran “akan tetap menjadi anggota NPT., dan kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) akan terus berlanjut, meskipun dalam bentuk baru untuk menjamin keamanan fasilitas nuklirnya,” demikian dilaporkan oleh Kantor Berita Tasnim.
Dalam pertemuan dengan para duta besar dan kepala misi asing yang berbasis di Teheran, Araghchi menekankan “bahwa pelanggaran terhadap sistem non-proliferasi adalah kerugian — tidak hanya bagi Iran, tetapi juga bagi komunitas internasional dan hukum internasional.”
Ia juga menyatakan bahwa “Teheran telah menerima banyak pesan dari Amerika Serikat yang menunjukkan niat untuk melanjutkan perundingan,” sambil menambahkan bahwa Iran “tidak ragu untuk bernegosiasi selama kepentingan dan manfaat rakyat Iran terjaga.”
“Berdasarkan undang-undang yang ditetapkan oleh parlemen, kerja sama kami diatur melalui Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, dan setiap permintaan IAEA akan dievaluasi oleh dewan ini sebelum diputuskan,” jelas Araghchi.
Ia juga mengingatkan adanya “risiko serius” terkait fasilitas nuklir Iran, termasuk “bahaya kebocoran radioaktif dan ancaman dari amunisi yang belum meledak akibat agresi Amerika Serikat.”
Konflik bersenjata selama 12 hari antara Israel dan Iran dimulai pada 13 Juni ketika Tel Aviv melancarkan serangan udara ke situs militer, nuklir, dan sipil Iran, menewaskan setidaknya 606 orang dan melukai 5.332 lainnya, menurut Kementerian Kesehatan Iran.
Sebagai balasan, Teheran melancarkan serangan rudal dan drone ke wilayah Israel yang menewaskan setidaknya 29 orang dan melukai lebih dari 3.400 orang, berdasarkan data dari Universitas Ibrani Yerusalem.
Konflik tersebut akhirnya dihentikan setelah gencatan senjata yang ditengahi oleh Amerika Serikat mulai berlaku pada 24 Juni.
Sumber: Anadolu









