Jakarta (BERITA HARIAN ONLINE) – Malaysia Menyampaikan Keprihatinan atas Penahanan Kapal Madleen oleh Israel
Malaysia mengungkapkan kekhawatirannya yang besar terhadap penahanan yang dilakukan Israel terhadap kru kapal Madleen yang sedang menjalankan misi kemanusiaan ke Gaza secara damai, dan menyerukan tindakan global terhadap Israel.
Dalam pernyataan resminya yang diterima di Jakarta pada Senin, Kementerian Luar Negeri Malaysia menegaskan bahwa tujuan utama dari misi ini adalah membuka jalur untuk pengiriman bantuan kemanusiaan yang sangat diperlukan oleh masyarakat Gaza, yang terus menerus menderita akibat blokade tidak manusiawi yang diterapkan oleh rezim zionis Israel, yang menyebabkan kelaparan massal.
“Aksi mencegat dan menghalangi awak kapal tersebut dengan jelas menunjukkan tindakan yang keji dan disengaja untuk mencegah bantuan kemanusiaan yang seharusnya dapat memberikan sedikit bantuan bagi mereka yang paling terkena dampak, termasuk anak-anak, wanita, dan orang tua,” jelas pernyataan Wisma Putra (Kemenlu Malaysia).
Wisma Putra menegaskan bahwa blokade terhadap Gaza adalah bentuk ketidakadilan yang tidak dapat diterima oleh nilai-nilai kemanusiaan universal.
Malaysia menekankan bahwa komunitas internasional tidak boleh berdiam diri dan harus bersatu melawan tindakan yang melanggar prinsip keadilan, martabat, dan hak asasi manusia ini.
Malaysia kembali menyerukan kepada komunitas internasional untuk mendesak rezim zionis Israel agar segera mengakhiri blokade yang kejam dan memungkinkan pengiriman bantuan kemanusiaan tanpa hambatan kepada rakyat Gaza.
Sebelumnya dilaporkan bahwa kapal bantuan kemanusiaan Madleen yang menuju Gaza akhirnya bersandar di Pelabuhan Ashdod, Israel, pada Senin, setelah pasukan Israel mencegat kapal tersebut dan menahan semua relawan di dalamnya.
Madleen adalah nama kapal yang ditumpangi oleh 12 aktivis solidaritas Palestina, termasuk aktivis lingkungan asal Swedia Greta Thunberg, dari pelabuhan Catania, Sisilia, Italia pada Minggu (1/6) menuju Jalur Gaza di Palestina, dan sempat dilaporkan hilang kontak pada Minggu (8/6) malam.
Kantor berita Korea Selatan Yonhap melaporkan pada Senin bahwa perjalanan selama tujuh hari yang memasuki perairan teritorial Gaza pada Minggu malam (8/6) seharusnya tiba di Gaza pada Senin pagi.
Selain aktivis dari Swedia, kapal tersebut juga membawa aktivis dari Jerman, Prancis, Brazil, Turki, Spanyol, dan Belanda.






