Menbud Memperkuat Akses Digital ke Manuskrip Bersejarah
Leiden, Belanda (BERITA HARIAN ONLINE) – Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyoroti pentingnya meningkatkan akses publik di Indonesia ke manuskrip langka dan arsip sejarah nasional di Perpustakaan Universitas Leiden secara digital pada hari Sabtu.
Fadli berdialog dengan Direktur Perpustakaan, Kurt De Belder, serta Direktur Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) Belanda, Profesor Dr Wim van den Doel.
“Kerja sama dalam digitalisasi, pelatihan, dan akses terbuka sangat penting untuk menghubungkan generasi sekarang dengan warisan intelektual bangsa,” ungkap Fadli dalam pernyataan Kementerian Kebudayaan di Jakarta, Sabtu.
Fadli Zon menilai bahwa Perpustakaan Universitas Leiden adalah pusat pengetahuan dunia paling lengkap mengenai Asia Tenggara, terutama Indonesia.
Ia berharap kolaborasi dapat diperluas meliputi digitalisasi manuskrip, pengembangan riset, dan pertukaran keahlian, untuk menjadikan warisan dokumenter Indonesia sebagai bagian integral dari pengetahuan global.
Menbud secara khusus meminta agar salinan digital koleksi tentang Pangeran Diponegoro dan Perang Jawa dapat dibagikan kepada Pemerintah Indonesia, untuk mendukung pameran nasional 200 Tahun Perang Diponegoro pada Juli 2025 nanti.
Ia juga menyambut baik ide pembangunan “Perpustakaan Digital Global Indonesia” sebagai fasilitas satu pintu untuk koleksi digital Indonesia secara global, serta penerjemahan meta-data koleksi manuskrip ke dalam Bahasa Indonesia untuk memudahkan akses publik dalam negeri.
Pihak Perpustakaan Leiden menyatakan bahwa lebih dari separuh koleksi terkait Indonesia telah mereka digitalisasi, termasuk koran, majalah, serta manuskrip dan naskah kuno.
Koleksi digital ini aktif diakses oleh peneliti, mahasiswa, seniman, hingga masyarakat umum dari Indonesia.
Penggunaan teknologi mutakhir seperti “International Image Interoperability Framework (IIIF)” dan riset model bahasa berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk membaca “naskah lontar” juga dilakukan sebagai inovasi untuk memperluas akses.
Kolaborasi erat juga terjalin dengan Perpustakaan Nasional RI (PNRI) dan Arsip Nasional RI (ANRI) dalam program digitalisasi dan penominasian memori kolektif dunia (Memory of the World) dari UNESCO, seperti Hikayat Aceh, Panji Manuskrip, Babad Diponegoro, La Galigo, dan arsip surat Kartini.
Perpustakaan Leiden juga menawarkan fellowship riset setiap tahun bagi peneliti Indonesia. Namun, Direktur Perpustakaan menyadari bahwa keterlibatan akademisi Indonesia masih perlu ditingkatkan.
Kunjungan Menteri Kebudayaan ditutup dengan peninjauan pameran mini koleksi dokumenter dan arsip langka, bagian dari inskripsi bersama Indonesia dan Belanda dalam UNESCO Memory of the World termasuk Babad Diponegoro dan manuskrip laporan penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Jenderal De Kock (1830), serta surat-surat dalam bahasa Melayu untuk Sultan Sumenep.









