Mengungkap Kadek Adi Asih, Harapan Baru Panjat Tebing Indonesia
Nusa Dua, Bali – Air mata haru Kadek Adi Asih membasahi udara menjelang senja di Pulau Peninsula, Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, pada Sabtu (3/5).
Gadis berusia 18 tahun tersebut berkali-kali menghapus air mata yang mengalir di pipinya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang erat tali yang menurunkannya perlahan dari ketinggian sekitar 15 meter dari puncak papan panjat tebing.
Gadis muda ini mengukir prestasi dengan meraih medali perunggu dalam seri ketiga Piala Dunia Panjat Tebing 2025 di tanah kelahirannya, Pulau Dewata.
Dalam pertandingan final untuk memperebutkan juara ketiga di cabang speed putri, ia mencatatkan waktu 7,27 detik.
Kadek sukses mengalahkan peringkat dua dunia, Jeong Jimin dari Korea Selatan, yang terpeleset sehingga tertinggal dengan catatan waktu 9,00 detik.
Ia menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia yang meraih medali di nomor speed putri.
Di sektor speed putra, seniornya, Kiromal Katibin, juga meraih medali perunggu.

Debut Internasional
Piala Dunia Federasi Internasional Panjat Tebing 2025 seri ketiga di Bali menjadi ajang debut Kadek di panggung dunia.
Ia bergabung dengan tim Indonesia yang terdiri dari 30 atlet, termasuk 10 atlet speed putra, sembilan atlet speed putri, dan masing-masing enam atlet lead putra dan putri.
Gadis kelahiran November 2006 ini tidak menyangka bahwa kejuaraan dunia pertama yang ia ikuti akan mencatatkan sejarah bagi dirinya dan negara.
Di podium, ia berdiri berdampingan dengan atlet kaliber dunia yang sudah lebih lama berkiprah di kancah profesional, termasuk juara dunia dan pemegang rekor dunia speed putri asal Polandia, Miroslaw Aleksandra, serta atlet asal China, Zhou Yafei.
“Saya tidak menyangka bisa sampai di titik ini, masuk final dan dapat medali,” kata Kadek dengan senyum lebar.
Dukungan dari tim nasional dan penonton menjadi motivasi yang membuatnya lebih bersemangat hingga berhasil menyentuh tombol finis lebih cepat.
Kadek mengaku bertanding tanpa beban karena menyadari dirinya bukan atlet unggulan.
Ia adalah “anak baru” yang bergabung dalam pemusatan latihan nasional panjat tebing di Bekasi, Jawa Barat, sejak 15 April 2025 di bawah bimbingan pelatih Hendra Basir.
Ketua Umum Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Yenny Wahid menyatakan bahwa pencapaian Kadek Adi Asih adalah kejutan manis bagi Indonesia.
Kadek menjadi “penyelamat” saat para seniornya terhenti di putaran final speed putri, termasuk Desak Made Rita Kusuma Dewi dari Buleleng, Bali.
Desak Rita terhenti di perempat final dengan waktu 9,17 detik setelah terpeleset menjelang puncak dan dikalahkan juara dunia dari Polandia, Miroslaw Aleksandra, dengan waktu 6,57 detik.
“Sebetulnya kami menempatkan (Kadek Adi Asih) lebih sebagai cadangan, tapi ternyata dia mempersembahkan medali, ini kejutan manis,” ujar Yenny Wahid.
Awal yang manis ini menarik perhatian publik karena ia merupakan atlet potensial yang dapat memperkuat tim nasional Indonesia di ajang bergengsi lainnya, seperti persiapan untuk Olimpiade Los Angeles, Amerika Serikat 2028.

Panjat Cengkih
Kadek Asih lahir dan besar di dataran tinggi Kabupaten Buleleng, Bali Utara, tepatnya di Banjar Pumahan, Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada yang sejuk.
Sejak kecil, ia sudah terbiasa memanjat karena setelah pulang dari Sekolah Dasar Negeri 1 Gitgit, ia sering mengikuti ayahnya, Komang Redi, untuk memetik cengkih yang tumbuh tinggi.
Ayahnya adalah petani cengkih, sementara ibunya, Luh Putu Sutarjani, adalah staf di Dinas Perhubungan Kabupaten Buleleng, Bali.
Bakat panjat tebingnya diasah sejak SD dengan bergabung dalam Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kabupaten Buleleng.
Dengan restu kedua orang tua, potensinya terus berkembang ketika bersekolah di SMP Negeri 4 Singaraja dan berlanjut di SMA Negeri 2 Singaraja.
Anak kedua dari tiga bersaudara ini mengikuti berbagai turnamen lokal, nasional, hingga level junior internasional.
Sebelumnya, pada turnamen lokal, ia berprestasi membela Kabupaten Buleleng pada Pekan Olahraga Provinsi XV tahun 2022 dan menyumbangkan empat medali emas.
Prestasinya terus berlanjut dengan mengikuti kejuaraan internasional yaitu IFSC Asia Continental Youth Cup 2023 untuk cabang speed putri junior di Singapura dan membawa pulang medali perunggu.
Kemudian di Pekan Olahraga Nasional 2024 Aceh-Sumatera Utara mewakili Provinsi Bali ia meraih medali perak, hingga Kejuaraan Nasional Panjat Tebing di Sulawesi Selatan dengan merebut medali emas di tahun yang sama.
Meski begitu, pencapaian ini tidak membuatnya berpuas diri karena dalam jangka pendek ia ingin berkompetisi di ajang dunia lainnya termasuk cita-cita menembus Olimpiade Los Angeles 2028.
Kedepannya, ia berencana memperbaiki teknik memanjat dan meningkatkan catatan waktunya.
Catatan waktu terbaiknya adalah 6,96 detik saat babak perdelapan final Piala Dunia Panjat Tebing 2025 di Bali dengan mengalahkan wakil Polandia, Chudziak Patrycia, yang terpeleset dan tidak melanjutkan pertandingan.
Perjalanan Kadek Adi Asih masih panjang di dunia panjat tebing profesional.
Prestasi tidak selalu bergantung pada silsilah atau latar belakang keluarga.
Semuanya berasal dari ketekunan dalam berlatih dan mental bangkit sang atlet sebagai faktor utama meraih podium, selain dukungan dan doa agar bisa mengharumkan Indonesia di kancah dunia.
Sementara keberuntungan adalah bonus yang diperoleh dari ketenangan dan fokus atlet saat bertanding.









