Home / Berita / Oga, Pelindung Pohon Kenari Kuno di Alor Timur Laut

Oga, Pelindung Pohon Kenari Kuno di Alor Timur Laut

oga pelestari pohon kenari purba di alor timur laut

Oga, Pelindung Pohon Kenari Kuno di Alor Timur Laut

Kini kenari bukan hanya milik hutan, tetapi milik masa depan kami

Jakarta (BERITA HARIAN ONLINE) – Di pagi yang cerah, Daniel bersama istrinya, Norce, menyusuri hutan di lembah perbukitan Nailang, Alor Timur Laut, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Di tangan mereka hanya terdapat tas anyaman bambu sebagai bekal.

Mereka melangkah cepat sambil berkomunikasi lewat pandangan mata, mengamati setiap celah di akar pohon kenari raksasa yang tumbuh di hutan lebat itu. Mereka mengumpulkan buah kenari yang jatuh di tanah.

Walaupun penampilannya garang, Daniel bukanlah orang yang sinis. Ia ceria, lucu, dan sangat ramah kepada pendatang. Kepada BERITA HARIAN ONLINE, pria berusia 53 tahun ini memperkenalkan dirinya sebagai “Om Oga”, akronim dari orang ganteng.

Oga adalah nama panggilan sayang yang diberikan oleh penduduk setempat kepada Daniel. Ia dianggap sebagai sosok yang mengesankan di Nailang, berkat banyaknya hubungannya dengan orang-orang cerdas dari dalam dan luar negeri karena dedikasinya terhadap budi daya pohon kenari.

Dia adalah figur penting yang menjadikan kenari Alor (Canarium sp.) bukan sekadar tanaman liar, tetapi menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat adat Alor Timur Laut.

Om Oga sudah mengenal kenari sejak keluarganya pindah ke perbukitan Nailang pada akhir tahun 1947. Ayahnya, seorang petani sederhana, memperkenalkannya pada buah hutan ini ketika ia masih berusia tujuh tahun.

Konon, pohon kenari yang tumbuh subur di Alor Timur Laut berasal dari tanaman pertama yang ditanam oleh Langtang Mautang sekitar tahun 875 masehi. Terdapat sepasang pohon kenari, jantan dan betina, yang kemudian menyebar melalui aliran air dan burung-burung.

Masyarakat Nailang percaya bahwa keturunan Langtang Mautang masih tinggal di wilayah Pulau Ternate Alor hingga saat ini.

Berbeda dengan kemiri dan jagung, buah kenari pada masa itu belum memiliki nilai jual karena hanya digunakan sebagai bahan makanan alternatif oleh masyarakat setempat.

Seiring waktu, pada tahun 1990-an, buah kenari mulai digunakan sebagai alat tukar dalam sistem barter, dan bijinya semakin diminati oleh masyarakat.

Perpindahan penduduk dari Jawa dan Sulawesi ke Nusa Tenggara Timur turut meningkatkan popularitas kenari. Meski masih kalah populer dibandingkan kemiri dan vanili Alor, harga satu kilogram kenari mulai dihargai Rp1.000 untuk dipasarkan ke ibu kota provinsi, Kupang.

Om Oga adalah salah satu petani yang dengan sabar melewati masa-masa tersebut hingga dapat menikmati hasil dari pertanian kenari saat ini. Saat ini, harga kenari di tingkat petani berkisar antara Rp35.000 hingga Rp45.000 per kilogram.

Tag:

Category List

Social Icons