Home / Agama / PBNU Ajak Jadikan Perjanjian Hudaibiyah Sebagai Contoh Penyelesaian Konflik Dunia

PBNU Ajak Jadikan Perjanjian Hudaibiyah Sebagai Contoh Penyelesaian Konflik Dunia

PBNU Ajak Jadikan Perjanjian Hudaibiyah Sebagai Contoh Penyelesaian Konflik Dunia

Jakarta (BERITA HARIAN ONLINE) – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf, mengusulkan agar perjanjian Hudaibiyah dijadikan model dalam membangun kesepakatan global guna mengatasi berbagai konflik kemanusiaan yang sedang terjadi di dunia.

“Islam semestinya mampu memberikan solusi atas kekacauan kemanusiaan yang semakin mencemaskan. Jika tidak, apa makna diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi seluruh alam?” ujar Gus Yahya di Jakarta, Rabu.

Pandangan ini disampaikan Gus Yahya setelah menghadiri Diskusi Pakar#3 yang diselenggarakan oleh Institute for Humanitarian Islam (IFHI) di Menteng, Jakarta Pusat, Rabu.

Perjanjian Hudaibiyah adalah kesepakatan damai antara kaum Muslimin yang dipimpin Nabi Muhammad SAW dengan kaum Quraisy di Hudaibiyah, dekat Makkah, pada bulan Zulkaidah tahun 6 Hijriah (628 M).

Menurut Gus Yahya, kesepakatan tersebut sangatlah penting untuk memberikan kontribusi nyata terhadap upaya penyelesaian krisis kemanusiaan global.

Ia menyampaikan bahwa selama beberapa tahun terakhir, PBNU telah melakukan berbagai kajian mendalam dengan melibatkan pakar lintas agama dan budaya dari seluruh penjuru dunia.

Tujuan dari kajian ini adalah untuk merumuskan solusi atas meningkatnya konflik identitas yang menjadi akar dari banyak krisis global saat ini.

“Kami menemukan bahwa kesepakatan bersama adalah kunci. Jika umat manusia dapat membangun konsensus yang dihormati oleh semua pihak, maka berbagai konflik identitas yang selama ini sulit diatasi dapat diselesaikan,” jelasnya.

Gus Yahya menegaskan bahwa perjanjian Hudaibiyah merupakan contoh nyata dalam sejarah Islam yang menunjukkan bagaimana sebuah kesepakatan mampu mengatasi norma keagamaan yang sudah mapan demi kepentingan bersama.

“Perjanjian Hudaibiyah menunjukkan bagaimana Rasulullah SAW lebih memprioritaskan perdamaian. Meskipun terdapat ketentuan yang tampaknya merugikan umat Islam, seperti pengembalian Muslim Makkah yang berpindah ke Madinah, Rasulullah tetap menghormati perjanjian tersebut,” ungkap Gus Yahya.

Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang, Jawa Tengah, ini menyatakan bahwa posisi perjanjian dalam nilai-nilai agama sangatlah kuat dan dapat menjadi dasar untuk membangun peradaban baru yang lebih damai.

Pacta sunt servanda, ungkapan Latin yang berarti ‘kesepakatan harus ditepati’, juga sejalan dengan ajaran Islam. Islam bukan hanya untuk umat Islam saja, tetapi juga menawarkan solusi bagi seluruh umat manusia,” tutur Gus Yahya.

Diskusi pakar yang diinisiasi oleh IFHI dihadiri oleh berbagai tokoh, akademisi, jurnalis, dan aktivis kemanusiaan. Mereka antara lain KH Ulil Abshar Abdalla, KH Rumadi Ahmad, KH Ahmad Suaedy, dan Sururin.

Tag:

Category List

Social Icons