Reaksi Pemerintah China Terhadap Pernyataan Dalai Lama Tentang Reinkarnasi Penerusnya
Beijing (BERITA HARIAN ONLINE) – Pemerintah China menanggapi pernyataan Dalai Lama ke-14 yang mengumumkan niatnya untuk bereinkarnasi setelah wafat, dengan calon penerusnya hanya dapat diidentifikasi melalui lembaga yang ia pimpin.
“Reinkarnasi dalam tradisi Buddhisme Tibet adalah metode pewarisan yang istimewa. Pemilihan reinkarnasi Dalai Lama, Panchen Lama, dan tokoh besar lainnya harus dilakukan sesuai tradisi yang ada, melalui undian dari guci emas, dan harus mendapatkan persetujuan dari pemerintah pusat,” ungkap Mao Ning, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, dalam konferensi pers di Beijing, Jumat.
Dalai Lama ke-14, pada Rabu (2/7), dari Dharamshala, India, mengumumkan bahwa setelah kematiannya, ia akan bereinkarnasi sebagai pemimpin spiritual berikutnya dan hanya Gaden Phodrang Trust, lembaga yang dipimpinnya, yang dapat mengidentifikasi penerusnya.
“Tidak ada pihak lain yang memiliki otoritas untuk campur tangan dalam masalah ini. Berdasarkan tradisi masa lalu, pencarian reinkarnasi saya dan penunjukan Dalai Lama ke-15 akan dilakukan,” jelas Dalai Lama di Dharamshala.
Siklus reinkarnasi merupakan inti dari agama Buddha Tibet. Berbeda dengan makhluk biasa yang terlahir kembali tanpa pilihan karena karma, seorang guru spiritual terhormat seperti Dalai Lama diyakini mampu memilih waktu dan tempat kelahirannya kembali.
“Pemerintah Tibet yang berada dalam pengasingan adalah kelompok separatis yang kerap menyebar rumor dan kebohongan tentang Tibet dan tidak memiliki kredibilitas,” tambah Mao Ning.
Mao Ning juga menjelaskan bahwa Dalai Lama ke-14 diangkat melalui prosedur yang sama dan disetujui oleh pemerintah pusat China saat itu.
“Reinkarnasi Dalai Lama harus mengikuti prinsip yang ada, dengan mematuhi ritual keagamaan dan adat istiadat berdasarkan sejarah. Ini harus dilakukan sesuai dengan hukum dan peraturan nasional,” imbuh Mao Ning.
Mao Ning mendesak pihak-pihak di luar China untuk menyadari sensitivitas masalah Tibet dan mengakui gerakan separatisme anti-China oleh Dalai Lama ke-14.
“Pihak luar harus berhati-hati dalam pernyataan dan tindakan, serta menghentikan penggunaan isu Tibet untuk mencampuri urusan dalam negeri China,” kata Mao Ning.
Dalai Lama ke-14, Tenzin Gyatso, diidentifikasi sebagai reinkarnasi ke-14 pada usia dua tahun. Ia memegang kekuasaan penuh pada usia 15 tahun dan melarikan diri dari Tibet empat tahun kemudian saat pasukan Tiongkok menumpas pemberontakan di Lhasa pada 1959.
Ia berlindung di Dharamshala, India, dan mendirikan pemerintahan pengasingan di sana sambil melakukan kunjungan ke berbagai negara di Amerika dan Eropa. Pada 1989, Dalai Lama ke-14 dianugerahi Nobel Perdamaian.
Pada 2011, Dalai Lama ke-14 menyerahkan posisi politiknya kepada kepala pemerintahan Tibet yang dipilih secara demokratis di pengasingan, namun tetap memegang peran sebagai pemimpin spiritual Tibet.
Di China, pemerintah menyatakan haknya untuk menyetujui penerus Dalai Lama sebagai warisan dari masa kekaisaran, serta mengakui Panchen Lama sebagai tokoh tertinggi kedua dalam Buddhisme Tibet setelah Dalai Lama.
Pemerintah China memilih Gyaincain Norbu sebagai Panchen Lama ke-11 pada 1995 ketika berusia 5 tahun, untuk menegaskan otoritasnya dalam menyetujui pemimpin tertinggi Buddhisme Tibet.
Pada 6 Juni 2025 lalu, Panchen Lama bertemu Presiden Xi Jinping di Beijing dan berjanji untuk lebih berperan dalam memperkuat persatuan bangsa China dan mempromosikan modernisasi Tibet, sesuai tradisi Panchen Lama untuk bertemu dengan presiden China setiap 10 tahun, seperti yang dilakukan pada 2015 dan 2005.
Dalai Lama ke-14, yang akan berusia 90 tahun pada 6 Juli 2025, menyatakan bahwa penerusnya akan lahir di negara bebas, sehingga memunculkan spekulasi bahwa reinkarnasinya akan berasal dari antara diaspora Tibet yang jumlahnya sekitar 140.000 orang di seluruh dunia, setengahnya tinggal di India. Ia juga menyatakan bahwa Dalai Lama berikutnya mungkin seorang dewasa dan tidak harus laki-laki.
Pencarian reinkarnasi Dalai Lama adalah proses yang rumit dan suci yang melibatkan pertimbangan petunjuk yang ditinggalkan oleh Dalai Lama sebelumnya.
Sesuai petunjuk tersebut, tim pencari akan mencari anak-anak yang lahir setelah kematian Dalai Lama, dan para kandidat harus menjalani serangkaian tes, termasuk mengidentifikasi barang-barang milik inkarnasi sebelumnya.
Reinkarnasi Dalai Lama tidak selalu ditemukan di Tibet. Dalai Lama ke-4 diidentifikasi pada akhir abad ke-16 di Mongolia, sementara Dalai Lama ke-6 ditemukan sekitar satu abad kemudian di Arunachal Pradesh, India.
Jika Dalai Lama berikutnya diidentifikasi sebagai anak kecil, dibutuhkan sekitar dua dekade pelatihan sebelum ia siap memimpin. Menurut tradisi, Dalai Lama berikutnya harus diakui oleh Panchen Lama saat ini.
Amerika Serikat sebelumnya mengesahkan Undang-Undang Kebijakan dan Dukungan Tibet pada tahun 2020, yang mengancam sanksi terhadap pejabat China yang terlibat dalam proses seleksi. Uni Eropa juga menyuarakan dukungan untuk kebebasan beragama di Tibet, tetapi belum mengambil sikap mengenai reinkarnasi.








