Ahli UGM: Pengaruh Lingkungan PLTP Lebih Kecil Dibandingkan Pembangkit Konvensional
Seorang pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menyatakan bahwa pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) memiliki dampak lingkungan yang lebih minimal jika dibandingkan dengan pembangkit listrik konvensional. Ini didasarkan pada analisis komprehensif mengenai emisi dan penggunaan sumber daya dalam proses pembangkitan energi.
Pertimbangan Lingkungan
Menurut Fahmy, salah satu keunggulan utama dari PLTP adalah tingkat emisi karbon yang jauh lebih rendah. Ini sangat kontras dengan pembangkit listrik berbahan bakar fosil yang mengeluarkan sejumlah besar gas rumah kaca ke atmosfer. Selain itu, PLTP memanfaatkan sumber daya yang dapat diperbarui, menjadikannya opsi yang lebih berkelanjutan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
Keberlanjutan dan Efisiensi
PLTP tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga efisien dalam hal penggunaan energi. Pemanfaatan panas bumi sebagai sumber energi mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang terbatas, serta mengurangi risiko kerusakan lingkungan yang sering dikaitkan dengan pertambangan dan ekstraksi bahan bakar tersebut.
Dengan berbagai manfaat ini, Fahmy mendorong pengembangan lebih lanjut teknologi PLTP sebagai bagian dari upaya peralihan menuju energi bersih dan terbarukan di Indonesia.






