Home / Penghargaan Komnas Disabilitas untuk Reunifikasi Jamaah Terpisah

Penghargaan Komnas Disabilitas untuk Reunifikasi Jamaah Terpisah

Penghargaan Komnas Disabilitas untuk Reunifikasi Jamaah Terpisah

Madinah (BERITA HARIAN ONLINE) – Upaya penyatuan kembali anggota jamaah calon haji yang terpecah dari kelompoknya mendapat pujian dari Komisi Nasional (Komnas) Disabilitas yang melakukan pengawasan langsung di Madinah.

“Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) berani mengambil keputusan penting dengan mencabut jamaah dari daftar manifest dan memisahkannya dari rombongan agar tetap bisa berangkat bersama pendampingnya. Ini adalah langkah yang sangat luar biasa,” ujar Wakil Ketua Komisi Nasional Disabilitas (KND) Deka Kurniawan di Madinah, Selasa.

Potensi pemisahan anggota jamaah dari rombongan ini disebabkan oleh sistem distribusi yang diatur oleh delapan syarikah (perusahaan layanan haji), termasuk jamaah dengan disabilitas yang didampingi oleh pendampingnya.

PPIH langsung merespons situasi ini dengan melakukan pendataan agar pasangan suami-istri maupun jamaah disabilitas atau lansia beserta pendampingnya dapat tergabung dalam satu kelompok.

Deka menyatakan bahwa langkah ini bukan sekadar administratif, tetapi juga sebagai wujud empati dan kemanusiaan. Dia tidak dapat membayangkan jika jamaah haji lansia diberangkatkan tanpa pendamping, yang dapat menyebabkan situasi yang tidak diinginkan.

“Jamaah lansia bisa mengalami stres yang memperburuk kondisi mental mereka,” ujar Deka.

Sebelumnya, sistem distribusi oleh syarikah dapat mengakibatkan jamaah terpisah dari keluarga atau pendamping medis mereka.

Dalam beberapa kasus, jamaah haji disabilitas dan lansia bahkan sempat diberangkatkan ke Makkah tanpa pendamping. Deka menyebutkan bahwa ini dapat menyebabkan kebingungan, disorientasi, bahkan laporan jamaah hilang.

Namun, setelah memahami situasi ini secara menyeluruh, PPIH Madinah bersama Komnas Disabilitas segera melakukan pemetaan dan mitigasi.

Jamaah yang berisiko dikumpulkan di hotel transit, kemudian diberangkatkan secara terencana dalam kelompok yang lebih terkendali bersama pendamping atau keluarga mereka.

“Langkah ini tidak ada di SOP, tetapi dilakukan atas dasar kemanusiaan,” kata Deka.

Tim PPIH juga aktif melakukan pendataan lanjutan di berbagai hotel untuk mengidentifikasi jamaah yang mungkin menghadapi masalah.

Petugas turun langsung, menyisir kamar-kamar untuk menanyakan kondisi jamaah lansia, mereka yang memiliki gangguan kognitif, dan yang memerlukan pendampingan ekstra secara fisik.

“Kami memberikan pengarahan langsung kepada petugas di sektor lansia dan disabilitas agar memetakan kebutuhan pendampingan. Kami tidak menunggu hingga esok hari, sore ini data harus sudah didapat agar dapat diantisipasi lebih awal,” ujar Deka.

Komnas Disabilitas memandang kebijakan PPIH Madinah ini sebagai perubahan positif dibandingkan awal musim haji, ketika sistem syarikah belum sepenuhnya disesuaikan dengan kebutuhan penyandang disabilitas.

Deka bahkan melihat bahwa layanan di Madinah saat ini mengalami peningkatan nyata dalam proses dan hasilnya, berkat inovasi di lapangan.

“Ini adalah kemajuan besar. Inisiatif petugas bukan hanya tentang negosiasi, tetapi juga perhatian personal. Seperti menenangkan, memberi makan, bahkan memijat jamaah yang stres. Ini belum banyak diketahui orang, tetapi sangat berdampak,” katanya.

Tag:

Category List

Social Icons