Amal Baik dan Perilaku yang Menghapusnya
Jakarta (BERITA HARIAN ONLINE) – Amal baik yang dilakukan dengan tulus tidak akan sia-sia. Namun, dalam ajaran Islam, terdapat beberapa perilaku yang dapat menghapus pahala amal tersebut meskipun kita sudah ikhlas dalam melakukannya.
Ini adalah pengingat penting bagi setiap Muslim agar senantiasa menjaga hati dan tindakan. Sering kali tanpa disadari, kita terjebak dalam sikap riya, syirik, dan kesombongan terhadap orang lain. Padahal, perilaku seperti ini dapat menjadi penyebab utama hilangnya nilai amal di hadapan Allah SWT.
Oleh karena itu, memahami perilaku yang dapat menghapus amal kebaikan adalah bagian dari upaya menjaga konsistensi ibadah dan keikhlasan hati.
Jadi, perilaku apa saja yang dapat membatalkan atau menghapus amal baik yang sudah kita lakukan? Simak penjelasan lengkapnya agar kita dapat menghindarinya dan terus menjaga amal kita, berdasarkan berbagai sumber.
Sifat dan Perilaku yang Dapat Menghapus Amal Baik
1. Keluar dari Islam (Murtad)
Orang yang meninggalkan agama Islam atau berpindah ke keyakinan lain, maka semua amal baik yang pernah dilakukannya akan gugur dan tidak memiliki nilai di sisi Allah Ta’ala. Di akhirat, orang tersebut akan dimasukkan ke dalam neraka dan tinggal di dalamnya selamanya.
Seperti firman Allah Ta’ala:
Barangsiapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, kemudian meninggal dalam keadaan kafir, maka sia-sialah amal mereka di dunia dan di akhirat. Mereka itulah penghuni neraka, kekal di dalamnya. (QS. Al-Baqarah: 217)
2. Menyekutukan Allah (Syirik)
Syirik yaitu mempersekutukan Allah dalam bentuk apa pun merupakan dosa besar yang tidak akan diampuni jika pelakunya meninggal sebelum bertaubat. Ini adalah penghinaan besar terhadap keagungan Allah.
Firman Allah Ta’ala:
Seandainya mereka mempersekutukan (Allah), niscaya gugurlah seluruh amalan yang telah mereka lakukan. (QS. Al-An’am: 88). Contoh syirik yang sering ditemui adalah pergi ke dukun, mempercayai ramalan, menggunakan jimat, atau bentuk lain yang menyalahi tauhid.
3. Riya’ dan Sum’ah
Riya’ adalah memperlihatkan ibadah untuk mendapat pujian dari orang lain, sementara sum’ah adalah membicarakan amal agar dipuji karena melakukannya. Keduanya adalah penyakit hati yang dapat menghilangkan pahala ibadah.
Allah berfirman:
Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang lalai dari shalatnya, dan berbuat riya’. (QS. Al-Ma’un: 4–6)
4. Ghibah (Membicarakan Orang Lain)
Membicarakan keburukan orang lain meski itu benar merupakan perbuatan tercela dalam Islam. Bahkan, ghibah disamakan dengan memakan bangkai saudara sendiri.
Allah SWT berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka, karena sebagian prasangka adalah dosa. Dan janganlah mencari-cari kesalahan orang lain, serta janganlah menggunjing satu sama lain. Adakah di antara kalian yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Hujurat: 12)
5. Sifat Sombong
Sombong atau merasa diri lebih unggul dari orang lain adalah penyakit hati yang berbahaya dan dapat menghapus pahala amal saleh. Dalam Islam, takabur sangat dikecam karena menunjukkan kesombongan terhadap sesama makhluk dan juga terhadap Allah.
Firman Allah dalam nasihat Luqman kepada anaknya:
Dan janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri. (QS. Luqman: 18)









