Wimbledon Mengubah Sistem Deteksi Garis Setelah Kesalahan Operator
Jakarta (BERITA HARIAN ONLINE) – Setelah terjadi insiden kesalahan operator yang mengakibatkan keputusan yang salah dalam pertandingan putaran keempat, Panitia Penyelenggara Wimbledon memutuskan untuk memperbarui sistem deteksi garis mereka.
Kesalahan ini terjadi dalam pertandingan antara Anastasia Pavlyuchenkova dan Sonay Kartal di Centre Court pada Minggu (6/7), ketika sistem deteksi garis secara tidak sengaja dinonaktifkan selama satu gim. Akibatnya, pukulan Kartal yang seharusnya dinyatakan keluar tidak terdeteksi, sehingga wasit tidak menerima informasi akurat dari teknologi Hawk-Eye.
“Setelah kami melakukan peninjauan, kami telah menghapus kemampuan operator Hawk-Eye untuk mematikan sistem deteksi garis secara manual,” jelas All England Lawn Tennis Club (AELTC) dalam pernyataan resmi mereka kepada BBC Sport pada Senin (7/7).
AELTC menegaskan bahwa dengan pembaruan ini, kesalahan serupa tidak akan terjadi lagi karena sistem tidak lagi dapat dimatikan secara manual.
Dalam pertandingan tersebut, seandainya pukulan Kartal dinyatakan keluar, Pavlyuchenkova mungkin bisa memimpin 5-4 di set pertama. Namun, wasit memutuskan untuk mengulang poin, dan Kartal akhirnya memenangkan gim itu.
Pavlyuchenkova akhirnya memenangkan pertandingan dalam dua set langsung, tetapi dia menyayangkan keputusan wasit yang dianggapnya kurang adil.
“Karena dia pemain lokal, mereka bisa mengatakan apa saja. Kalian mengambil gim itu dari saya,” ujar petenis asal Rusia tersebut.
Wimbledon telah menggunakan sistem deteksi garis otomatis sepenuhnya sejak 2025, menggantikan peran hakim garis manusia. Kebijakan ini mirip dengan yang berlaku di Australia Open dan US Open.
Namun, insiden ini menambah kekhawatiran para pemain tentang keandalan sistem, setelah sebelumnya Emma Raducanu dan Jack Draper juga mengeluhkan keputusan teknologi yang serupa.
CEO AELTC Sally Bolton menyatakan bahwa secara umum sistem berfungsi dengan baik, tetapi kesalahan manusia menyebabkan sistem tidak aktif dan wasit tidak mendapatkan pemberitahuan.
“Kami telah meminta maaf kepada para pemain, melakukan evaluasi menyeluruh, dan menerapkan perubahan prosedur agar kejadian serupa tidak terulang,” kata Bolton.
Meskipun sistem kini sepenuhnya otomatis, sekitar 80 mantan hakim garis tetap dipekerjakan sebagai asisten pertandingan untuk membantu wasit di lapangan.
Namun, Bolton menegaskan tidak ada rencana untuk mengembalikan hakim garis ke posisi awal mereka.
“Kami tidak perlu menempatkan mereka kembali ke lapangan. Kami hanya perlu memastikan sistem tetap aktif,” ujarnya.









