Home / Kesehatan / IDAI: Peran Penting Komunikasi Empatik Tenaga Kesehatan dalam Imunisasi

IDAI: Peran Penting Komunikasi Empatik Tenaga Kesehatan dalam Imunisasi

idai komunikasi empatik dari nakes kunci efektivitas dalam imunisasi

IDAI: Peran Penting Komunikasi Empatik Tenaga Kesehatan dalam Imunisasi

Nakes tidak hanya bertugas sebagai penyuntik, tetapi juga harus menjadi komunikator yang empatik

Jakarta (BERITA HARIAN ONLINE) – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan sejumlah rekomendasi kepada berbagai pihak terkait untuk meningkatkan cakupan imunisasi dengan menekankan pentingnya komunikasi jujur dan empatik dari tenaga kesehatan sebagai salah satu kunci utamanya.

Ketua IDAI, Piprim Basaran Yanuarso, mengungkapkan bahwa salah satu alasan penolakan terhadap vaksinasi adalah kekhawatiran umat Islam akan pelanggaran syariat. Selain itu, tidak semua daerah memiliki akses ke ulama yang memahami masalah medis.

“Tenaga kesehatan harus lebih dari sekadar pemberi suntikan; mereka harus menjadi komunikator yang empatik. Pendekatan manusiawi diperlukan oleh masyarakat, bukan hanya data ilmiah,” ujar Piprim dalam webinar bertema “Imunisasi dalam Perspektif Islam untuk Kesejahteraan Masyarakat” di Jakarta, Rabu.

Dia menambahkan bahwa masalah lain adalah hoaks tentang imunisasi yang sering disebarkan, seperti isu kandungan vaksin yang tidak halal atau bahwa imunisasi hanya proyek untuk keuntungan. Lebih parahnya, narasi sesat lebih dipercaya jika disampaikan oleh orang terdekat.

Untuk mengatasi hal ini, Piprim menyarankan tenaga kesehatan untuk menjelaskan tentang vaksin dan imunisasi dengan bahasa yang mudah dipahami dan sopan.

“Jadi, kunci komunikasi yang efektif adalah kesederhanaan, hindari jargon medis. Ceritakan kisah nyata. Testimoni orang tua, atau gunakan animasi yang mudah dipahami pasien. Tenaga kesehatan harus menjadi contoh, vaksinasi anaknya sendiri,” katanya.

Menurutnya, teknologi kecerdasan buatan (AI) dapat dimanfaatkan untuk tujuan ini, misalnya untuk membuat narasi yang dapat dipahami kelompok tertentu, misalnya dalam bahasa Sunda, bahasa Jawa, bagi yang tidak mengerti bahasa Indonesia.

Dia menekankan bahwa imunisasi bukan hanya tentang masalah medis, tetapi juga tentang iman, nilai, dan kemaslahatan, sehingga ilmu dan iman perlu disinergikan dalam upaya imunisasi untuk melindungi anak yang merupakan amanah dari Tuhan.

Selain komunikasi efektif dari tenaga kesehatan, Piprim menekankan pentingnya melibatkan tokoh agama, alim ulama, dan komunitas dalam hal ini, karena edukasi bersama kelompok-kelompok tersebut dapat meningkatkan kepercayaan terhadap imunisasi. Kesepahaman dalam fatwa antartokoh agama diperlukan.

“Terdapat berbagai pilihan mazhab. Namun, kita bisa mengikuti pilihan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang sangat mendukung imunisasi,” ujarnya memberi contoh.

Dia menambahkan bahwa masyarakat juga perlu menjadi agen perubahan dengan membangun budaya klarifikasi informasi serta edukasi. Orang tua merupakan teladan bagi anak dalam membudayakan literasi, sehingga perlu mengajak anak berdiskusi tentang kesehatan sejak dini.

Piprim menegaskan bahwa transparansi juga diperlukan dari pemerintah, misalnya dengan mendukung produksi vaksin menggunakan bahan-bahan halal sejak awal, sehingga tidak ada lagi perdebatan mengenai kehalalan vaksin.

Piprim menjelaskan bahwa Islam mendukung upaya menjaga kesehatan, termasuk imunisasi untuk anak-anak, karena menjaga jiwa adalah tujuan utama syariat, bahkan pengobatan adalah sebuah keharusan.

Tag:

Category List

Social Icons