Anggota DPR: Bantuan Sosial Berbasis Pemberdayaan Lebih Efektif Tangani Kemiskinan
Jakarta (BERITA HARIAN ONLINE) – Abdul Fikri Faqih, Anggota Komisi VIII DPR RI, mengemukakan bahwa reformasi bantuan sosial (bansos) yang diinisiasi oleh pemerintah saat ini sudah berada di jalur yang benar.
Fikri, begitu biasa dia disapa, menyampaikan pandangannya saat dihubungi di Jakarta pada hari Kamis. Ia menilai bahwa perubahan skema bantuan sosial dari yang sebelumnya berbentuk Bantuan Langsung Tunai (BLT) ke program yang berfokus pada pemberdayaan dan penerapan sistem data tunggal lebih efektif dalam menangani masalah kemiskinan.
“Diharapkan, model ini lebih efektif dalam mengentaskan kemiskinan dan sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia kita,” tuturnya.
Selain itu, Fikri juga berpendapat bahwa langkah pemerintah dalam mengalihkan bantuan sosial ke kebutuhan dasar, seperti Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) serta pembangunan Sekolah Rakyat merupakan strategi yang tepat. Pemerintah telah mempercepat pembangunan Sekolah Rakyat dengan target mendirikan 200 sekolah baru tahun ini.
“Bantuan harus diarahkan pada peningkatan kapasitas masyarakat. Maka, selain MBG, pemerintah juga mendorong Program Sekolah Rakyat agar kelompok rentan bisa lebih berdaya,” ujarnya.
Ia yakin bahwa pelaksanaan program-program tersebut secara efektif dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan dan memperbaiki tata kelola bantuan sosial agar lebih transparan dan akurat, sebagaimana yang telah dilakukan oleh beberapa negara lain.
Fikri juga mengomentari kebijakan tarif resiprokal sebesar 32 persen yang diterapkan oleh Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump, yang dapat mempengaruhi ekspor Indonesia. Ia mendukung langkah-langkah pemerintah saat ini, termasuk penugasan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto untuk melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat guna mengurangi dampak kebijakan tersebut.
“Beberapa sektor seperti garmen dan sepatu mungkin akan terkena dampak lebih besar. Namun, pemerintah juga telah mulai mencari pasar alternatif di Afrika dan wilayah lainnya untuk mengurangi ketergantungan pada Amerika Serikat,” ungkapnya.






