Perbedaan Antara Masalah Memori Akibat Penuaan dan Demensia
Jakarta (BERITA HARIAN ONLINE) – Terkadang lupa nama, lupa di mana meletakkan barang, berbicara dengan kata yang salah, atau memerlukan waktu lebih lama dari biasanya untuk mengingat sesuatu dapat terjadi seiring bertambahnya usia.
Namun, dengan meningkatnya kesadaran tentang demensia, banyak orang bertanya-tanya apakah masalah ingatan semacam itu merupakan tanda awal demensia.
Menurut informasi yang diterbitkan di situs resmi Kementerian Kesehatan, demensia melibatkan serangkaian gejala penurunan fungsi kognitif otak, yang menyebabkan gangguan memori, berpikir, komunikasi, perilaku, dan emosi yang merosot.
Walau terkadang bisa membuat frustrasi, sesekali lupa atau sulit mengingat sesuatu umumnya tidak perlu dikhawatirkan.
Menurut laporan Medical Daily yang diterbitkan pada Kamis (1/5), masalah ini adalah gangguan memori terkait usia yang merupakan bagian normal dari proses penuaan.
Pada perubahan memori terkait usia yang normal, kelupaan biasanya terjadi sesekali dan seringkali melibatkan ingatan dari masa lalu yang lebih jauh.
Sementara gangguan memori akibat demensia biasanya dimulai dengan kehilangan ingatan ringan yang memburuk seiring waktu.
Penderita demensia sering mengalami kesulitan mengingat kejadian baru, seperti melupakan percakapan yang baru saja mereka lakukan atau tidak mengenali orang yang baru saja mereka temui.
Gejala demensia lainnya dapat mencakup kesulitan berbahasa dan memahami; kebingungan tentang waktu, tempat, atau orang; perubahan perilaku dan kepribadian; kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari; kesulitan memahami ruang dan jarak sehingga rentan terjatuh; serta kesulitan membedakan warna.
Jadi, sering lupa tidak selalu menunjukkan demensia. Faktor lain seperti stres atau kelelahan juga bisa membuat seseorang menjadi pelupa.
Masalah ingatan dapat terjadi akibat cedera kepala seperti gegar otak, tumor, atau infeksi otak; masalah tiroid; efek samping obat; penyalahgunaan obat; gangguan kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan; gangguan tidur; atau kekurangan nutrisi.
Jika masalah ingatan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter.
Tanda peringatan masalah ingatan yang perlu diwaspadai meliputi pengulangan pertanyaan yang sama berulang kali, tersesat di tempat yang sudah dikenal, atau kesulitan merawat diri sendiri.
Penting untuk diingat bahwa memperhatikan gejala seperti kehilangan ingatan atau kebingungan saja tidak cukup untuk mendiagnosis demensia.
Hanya profesional kesehatan yang dapat membuat diagnosis setelah evaluasi menyeluruh, termasuk pemeriksaan riwayat medis, hasil tes kognitif dan pemeriksaan fisik, serta pencitraan otak.
Dalam beberapa kasus, orang dewasa yang lebih tua dan sering lupa mungkin didiagnosis dengan gangguan kognitif ringan.
Tidak seperti demensia, individu dengan gangguan kognitif ringan biasanya masih dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.









