Mendukbangga Soroti Banyaknya Kementerian/Lembaga dalam Penanganan Stunting
Jakarta (BERITA HARIAN ONLINE) – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) sekaligus Kepala BKKBN, Wihaji, menyatakan bahwa saat ini ada 8,6 juta keluarga di Indonesia yang berisiko mengalami stunting. Fokus dari intervensi saat ini meliputi asupan gizi, ketersediaan air bersih, sanitasi, dan pencegahan pernikahan dini.
Banyak pihak terlibat dalam penanganan stunting, namun terkadang tidak jelas di mana, apa, dan siapa yang terlibat secara spesifik
Berdasarkan Peraturan Presiden (PP) Nomor 72 Tahun 2021 yang mengatur percepatan penurunan stunting, Wihaji menyoroti keterlibatan 33 Kementerian/Lembaga (K/L) dalam intervensi stunting. Namun, ia merasa langkah tersebut belum efektif karena tidak menyasar penyebab utamanya.
“Terlalu banyak pihak yang terlibat dalam penurunan stunting, tetapi di mana, apa, dan siapa yang berperan seringkali kurang jelas. Ini menjadi perhatian, agar ke depan kita bisa lebih fokus pada hal mendasar seperti air bersih, nutrisi, sanitasi, dan pencegahan pernikahan dini,” ujar Mendukbangga Wihaji saat Rapat Kerja dengan Komisi IX DPR RI di Jakarta, Selasa.
Menurutnya, pengawasan dan evaluasi program penurunan stunting harus lebih terarah, terutama pada penanganan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) atau usia 0-2 tahun.
Wihaji juga menekankan bahwa ukuran keberhasilan penurunan stunting tidak selalu terlihat secara kasat mata, salah satunya adalah perubahan perilaku di dalam keluarga. Hal ini penting karena menunjukkan efektivitas intervensi yang dilakukan.
“Contohnya, kehadiran dalam pertemuan Bina Keluarga Balita (BKB) sangat penting karena kekuatan penanganan ada di keluarga, mulai dari calon pengantin hingga ibu hamil. Setelah 1.000 HPK, peluang sembuh dari stunting hanya 20 persen. Fokus kita ke depan adalah pada penyebab atau keluarga berisiko stunting yang harus kita tangani,” jelas Wihaji.
Berdasarkan data dari Kemendukbangga/BKKBN, ada 3,7 juta keluarga berisiko stunting yang tidak memiliki jamban layak, 1,9 juta keluarga tidak memiliki akses air minum utama yang layak, dan 4,3 juta keluarga dengan pasangan usia subur yang mengalami empat terlalu (terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat, dan terlalu banyak), serta tidak menggunakan KB modern.
“Data ini akan menjadi prioritas utama dalam penanganan stunting. Kami memiliki 18.086 Penyuluh KB atau Penyuluh Lapangan KB (PKB/PLKB) dan 602.089 tim Pendamping Keluarga (TPK), yang terdiri dari bidan, kader PKK, kader KB, dokter, perawat, ahli gizi, dan tenaga kesehatan lainnya,” ungkap Mendukbangga.
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling, atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita BERITA HARIAN ONLINE.








