Menteri Luar Negeri Iran: Senjata Nuklir Tidak Manusiawi dan Terlarang Secara Agama
Teheran (BERITA HARIAN ONLINE) – Iran menilai senjata nuklir sebagai sesuatu yang ‘tidak manusiawi’ dan ‘terlarang secara agama,’ serta menyatakan bahwa kepemilikan senjata tersebut dapat membuat Teheran ‘lebih rentan,’ ujar Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Rabu (2/7).
‘Kami melihat senjata nuklir bukan hanya tidak manusiawi, tetapi juga dilarang secara agama. Kami tidak percaya bahwa untuk mempertahankan diri, kami memerlukan persenjataan nuklir,’ ungkap Araghchi kepada CBS News.
‘Kepemilikan senjata nuklir bahkan dapat menempatkan kami pada posisi yang lebih lemah. Ada pihak lain di Iran yang tidak setuju dengan pandangan saya,’ tambahnya.
Mengenai pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat, Araghchi menyatakan bahwa Teheran saat ini tengah mempertimbangkan apakah akan mempercayai Washington dan memasuki negosiasi baru dengan pihak AS setelah konflik Iran-Israel dan keterlibatan Washington di dalamnya.
Sebelumnya, pada malam 13 Juni, Israel melancarkan operasi terhadap Iran, menuduhnya menjalankan program nuklir militer rahasia.
Iran menolak tuduhan tersebut dan membalas dengan serangan sendiri. Kedua belah pihak saling menyerang selama 12 hari, diikuti oleh Amerika Serikat yang melancarkan serangan sekali terhadap fasilitas nuklir Iran pada malam 22 Juni.
Malam berikutnya, Teheran meluncurkan serangan rudal ke pangkalan AS Al Udeid di Qatar.
Presiden AS Donald Trump menyatakan pada 23 Juni bahwa Israel dan Iran telah sepakat untuk melakukan gencatan senjata guna mengakhiri ‘perang 12 hari’.
Sehari kemudian, Trump mengumumkan bahwa gencatan senjata antara Iran dan Israel telah berlaku, dan mendesak kedua belah pihak untuk tidak melanggarnya.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA









