Dampak Perubahan Iklim pada Kakatua Kecil Jambul Kuning di NTB
Mataram (BERITA HARIAN ONLINE) – Pakar ekologi hewan dari Universitas Mataram, I Wayan Suana, mengungkapkan bahwa perubahan iklim menimbulkan ancaman terhadap populasi kakatua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea occidentalis) yang kini hanya berjumlah 51 ekor di Pulau Moyo, Nusa Tenggara Barat.
“Jumlah 51 ekor tersebut sangat rentan terhadap kepunahan akibat perubahan iklim global,” ujar Wayan dalam suatu acara konsultasi publik mengenai penyusunan peta jalan konservasi kakatua kecil jambul kuning yang berlangsung di Mataram, Rabu.
Wayan menjelaskan bahwa perubahan iklim global yang berdampak pada suhu dan kondisi lingkungan dapat mengurangi kemungkinan telur dari kakatua kecil jambul kuning menetas. Pulau Moyo menjadi habitat penting bagi burung ini, yang membuat sarang dengan melubangi pohon.
Perubahan suhu, pola curah hujan, dan peningkatan kejadian cuaca ekstrem dapat mengganggu satwa liar ini. Hal ini tidak hanya mempengaruhi kemampuan reproduksi, tetapi juga habitat dan ketersediaan makanan mereka.
Di samping perubahan iklim, ancaman lain terhadap populasi burung kakatua kecil jambul kuning adalah perburuan liar serta kerusakan dan hilangnya habitat alami mereka.
Ia mengatakan bahwa pentingnya pelaksanaan konservasi, pengelolaan habitat, dan edukasi masyarakat untuk mengurangi ancaman perubahan iklim pada burung kakatua kecil jambul kuning di Taman Nasional Moyo Satonda yang berada di Pulau Sumbawa.
“Burung kakatua kecil jambul kuning di Pulau Moyo tidak hanya bersarang di kawasan taman nasional. Banyak di antara mereka yang bersarang di pohon-pohon di lahan milik masyarakat,” kata Wayan, yang mengajar mata kuliah biologi.
Menurut data pengamatan langsung dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Nusa Tenggara Barat pada tahun 2024, jumlah populasi kakatua kecil jambul kuning hanya tersisa 51 ekor yang ditemukan di beberapa lokasi pengamatan di bagian selatan, timur, dan barat Pulau Moyo.
Burung ini memiliki tubuh kecil dengan panjang sekitar 33 sampai 35 centimeter, bulu berwarna putih, jambul berwarna kuning, dan paruh berwarna hitam yang melengkung tajam dan kuat.
Wayan menambahkan bahwa data yang ada saat ini hanya terkait populasi, sehingga diperlukan lebih banyak penelitian ilmiah agar upaya konservasi tidak hanya subjektif, tetapi juga berbasis data.
Kepala BKSDA NTB, Budhy Kurniawan, mengatakan pihaknya sedang menyusun peta jalan konservasi kakatua kecil jambul kuning di Taman Nasional Moyo Satonda. Peta jalan ini sudah memasuki tahap konsultasi publik dan ditargetkan selesai pekan depan.
“Kami berharap dokumen peta jalan dapat menjadi panduan dalam kegiatan konservasi kakatua kecil jambul kuning. Dukungan dari berbagai pihak sangat diperlukan untuk pelestarian spesies ini,” tutup Budhy.








