Prabowo Paparkan Strategi Mengelola Ketegangan di Laut China Selatan
Kami telah menuntaskan masalah (tumpang tindih klaim batas ZEE) dengan Vietnam setelah melewati beberapa dekade klaim dan sanggahan. Beberapa bulan yang lalu, kesepakatan berhasil dicapai…
Jakarta (BERITA HARIAN ONLINE) – Presiden RI Prabowo Subianto memaparkan strateginya dalam mengelola ketegangan di Laut China Selatan, kawasan perairan yang saat ini diperebutkan oleh sejumlah negara ASEAN dan China.
Selama sesi ADF Talks di Antalya Diplomacy Forum, di Kota Antalya, Turki, pada hari Jumat, Presiden membagikan pengalaman Indonesia yang berhasil menyepakati batas-batas zona ekonomi eksklusifnya di Laut China Selatan bersama Vietnam.
“Kami telah menyelesaikan masalah (tumpang tindih klaim batas ZEE) dengan Vietnam setelah melewati beberapa dekade klaim dan sanggahan. Beberapa bulan yang lalu, kami mencapai kesepakatan. Saya juga telah mengusulkan kepada sahabat saya, Perdana Menteri Malaysia (Anwar Ibrahim), untuk menyelesaikan isu yang masih tertunda antara Indonesia dan Malaysia,” kata Presiden Prabowo saat menjawab pertanyaan moderator dalam sesi ADF Talks di Antalya, Turki, Jumat (11/4) sore waktu setempat.
Presiden menyatakan bahwa ketegangan di kawasan saat ini salah satunya disebabkan oleh persoalan batas-batas wilayah dan tumpang tindih klaim di Laut China Selatan.
Menurut Prabowo, persoalan tersebut merupakan peninggalan dari negara-negara kolonial dan imperialis yang pernah menjajah mayoritas negara di Asia Tenggara.
“Warisan dari penjajahan selama berabad-abad itu masih tersisa seperti batas-batas wilayah yang belum jelas. Ini adalah kekacauan yang harus kita benahi sekarang,” ujar Prabowo.
Bagi Presiden Prabowo, kunci utama dalam mengelola ketegangan di kawasan, termasuk di Laut China Selatan, adalah prinsip saling menghormati dan kolaborasi. Prinsip dan langkah ini yang diterapkan oleh Presiden Prabowo saat berbicara dengan Presiden China Xi Jinping.
Indonesia saat ini bukan bagian dari negara yang bersengketa dengan China terkait klaim wilayah di Laut China Selatan. Namun demikian, China saat ini mengklaim sepihak hampir seluruh wilayah Laut China Selatan dengan 10 garis putus-putusnya (10-dash line). Klaim terbaru 10 dash line China itu juga mencakup wilayah Laut Natuna Utara, yang merupakan ZEE Indonesia.
“China mengklaim nelayan mereka telah menangkap ikan di wilayah tersebut selama ribuan tahun, dan kami juga mengklaim telah melakukan hal yang sama selama ribuan tahun. Jadi, saya katakan kepada Presiden Xi, mengapa kita tidak melakukan pengembangan bersama?” ujar Presiden Prabowo.
Prabowo kemudian mengajak Xi untuk mendata jumlah kapal-kapal China yang melaut dekat ZEE Indonesia, dan kapal-kapal Indonesia sehingga kedua negara dapat menetapkan aturan-aturan bersama yang bermanfaat untuk kedua belah pihak dalam kerangka hukum internasional. Aturan-aturan bersama itu juga ditetapkan untuk mencegah penangkapan ikan berlebihan.
“Mari kita buat sistem perizinan agar semua pihak mendapatkan manfaat. Saya katakan kepada semua, 100 persen dari 0 (nol) tetaplah 0. Jadi, lebih baik kita bekerja sama sambil menunggu penyelesaian, dan Presiden Xi menyetujui hal ini dengan cepat,” ujar Prabowo.
Presiden kemudian menyebut dirinya juga menawarkan pengembangan bersama serupa kepada Malaysia dan Vietnam.
“Inilah pendekatan saya. Mari kita bekerja sama untuk mencapai kemakmuran bersama. Tiap bangsa, tiap negara, tiap agama di dunia menghendaki hal yang sama, kehidupan, kebebasan, dan mengejar kebahagiaan. Semua orang menghendaki hal yang paling mendasar, kemakmuran, dan tidak akan ada kemakmuran tanpa perdamaian,” kata Presiden Prabowo.








