Program Cofiring Biomassa Ciptakan Kesempatan Kerja di Aceh Jaya
Selama ini, bahan baku kami peroleh dari limbah kayu yang berasal dari lahan sawah rakyat yang melimpah.
Aceh Jaya (BERITA HARIAN ONLINE) – Inisiatif energi terbarukan dengan memanfaatkan biomassa sebagai bahan bakar pencampur atau cofiring di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), telah menciptakan peluang kerja baru bagi masyarakat di Kabupaten Aceh Jaya melalui pemanfaatan limbah kayu sebagai bahan baku biomassa.
“Selama ini, bahan baku kami peroleh dari limbah kayu yang berasal dari lahan sawah rakyat yang melimpah. Dengan demikian, pemanfaatan limbah ini membuat masyarakat tidak perlu membeli,” ujar pemasok limbah kayu Saifuddin Djohan di Aceh Jaya, Aceh, Selasa.
Djohan, yang juga menjabat sebagai Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Meureuhom Daya, menyatakan bahwa sejak pertengahan 2024, pihaknya telah memasok limbah kayu ke fasilitas pembuatan serpihan kayu (woodchips) PT Palma Banna Mandiri, mitra PLN yang menyuplai bahan baku cofiring biomassa ke PLTU Nagan Raya.
Perusahaan ini mempekerjakan sekitar 20 penduduk lokal untuk mengumpulkan limbah kayu. Pekerja yang direkrut biasanya berasal dari latar belakang petani dan pengangguran.
“Kami melihat ini sebagai peluang untuk mengurangi angka pengangguran. Hal ini memberikan dampak positif bagi masyarakat dalam menambah pendapatan,” tambahnya.
General Manager PT Palma Banna Mandiri, Heri Saputra, mengungkapkan bahwa perusahaannya mulai menyuplai biomassa untuk cofiring PLTU Nagan Raya sejak 2021.
“Kami memulai dengan biomassa dari cangkang sawit, sekam padi, dan serbuk kayu. Saat ini, kami terus memproduksi wood chips di Aceh Jaya,” jelasnya.
Pengelolaan biomassa ini dilakukan dengan melibatkan masyarakat setempat, termasuk mantan pasukan perempuan (inong balee), eks kombatan GAM, dan masyarakat umum lainnya.
“Dampak positifnya, mereka kini memiliki penghasilan tetap karena bekerja setengah hari bisa mendapatkan Rp150 ribu hingga Rp200 ribu dari pengumpulan biomassa ini,” ujarnya.

Di Aceh Jaya, perusahaan ini secara khusus memproduksi bahan baku biomassa berupa woodchips. Saat ini, masyarakat setempat memanfaatkan limbah kayu dari pembukaan lahan sawah baru untuk dikumpulkan dan dijual ke pabrik.
“Setiap ton limbah kayu kami hargai Rp200 ribu hingga Rp300 ribu, tergantung jenis kayu, tingkat kekeringan, dan ukuran kayu. Pembayaran dilakukan secara tunai sehingga masyarakat sangat senang. Dampak positifnya sangat dirasakan oleh masyarakat di sini,” tambahnya.
Ia berharap kontrak kerja sama antara PT PLN EPI dan PT Palma Banna Mandiri untuk tahun ini dapat segera terlaksana, sehingga limbah kayu yang dikumpulkan dari masyarakat dapat diolah menjadi woodchips dan kembali diserap oleh PLTU.
Menurutnya, perusahaan memiliki rencana untuk memastikan pasokan bahan baku biomassa berkelanjutan, yaitu melalui penanaman pohon gamal dan kaliandra di lahan milik eks kombatan GAM dan masyarakat setempat. Kedua jenis pohon ini sudah terbukti cocok untuk digunakan sebagai bahan baku cofiring biomassa.
Program penanaman pohon ini akan dilaksanakan setelah kontrak antara PT PLN Energi Primer Indonesia (EPI) dan PT Palma Banna Mandiri terjalin untuk memasok woodchips ke PLTU Nagan Raya.
“Untuk program penanaman pohon gamal, kami sudah bekerja sama dengan 10 kelompok tani. Masing-masing kelompok terdiri dari 50 anggota. Lahan seluas 1.000 hektare milik enam kelompok tani sudah siap untuk penanaman, sementara sisanya masih dalam proses pengurusan,” ujar Heri Saputra.







