Tujuh Kali Erupsi Gunung Semeru dengan Letusan Mencapai 1.000 Meter
Gunung Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, dilaporkan mengalami erupsi sebanyak tujuh kali dengan tinggi letusan yang mencapai antara 500 meter hingga 1.000 meter di atas puncak pada hari Selasa.
Letusan pertama terjadi pada pukul 00:21 WIB, disusul empat menit kemudian pada pukul 00:25 WIB dengan visual letusan yang tidak terpantau. Saat laporan disusun, erupsi masih berlanjut.
Pada pukul 05:54 WIB, gunung yang tertinggi di Pulau Jawa ini kembali mengalami erupsi dengan ketinggian kolom letusan sekitar 700 meter di atas puncak atau 4.376 meter di atas permukaan laut (mdpl).
“Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang ke arah timur laut. Saat laporan itu dibuat, erupsi masih berlangsung,” kata Liswanto, Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, dalam laporan tertulis yang diterima di Lumajang.
Erupsi berikutnya tercatat pada pukul 07:32 WIB dengan ketinggian kolom letusan sekitar 500 meter di atas puncak. Kolom abu terlihat berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah barat daya.
“Erupsi tersebut terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 118 detik,” ujarnya.
Letusan tertinggi terjadi pada pukul 09:18 WIB dengan ketinggian kolom letusan mencapai 1.000 meter di atas permukaan laut. Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah barat daya. Erupsi ini juga terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 190 detik.
Pada Selasa malam, erupsi Gunung Semeru kembali terjadi pada pukul 19:14 WIB dan 22:04 WIB. Meskipun tidak terlihat secara visual akibat cuaca kabut, kedua erupsi tersebut terekam di seismograf dengan amplitudo maksimal 22 mm dan durasi antara 120 hingga 133 detik.
Liswanto menjelaskan bahwa status Gunung Semeru masih berada pada Level II atau waspada. Oleh karena itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memberikan rekomendasi agar masyarakat tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh delapan kilometer dari puncak (pusat erupsi).
Di luar jarak tersebut, masyarakat juga dilarang beraktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan, karena berpotensi terkena perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 13 kilometer dari puncak.
“Masyarakat juga diminta untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah/puncak Gunung Semeru, guna menghindari bahaya lontaran batu pijar,” tambahnya.
Selain itu, masyarakat diimbau untuk mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar hujan di sepanjang aliran sungai dan lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru, khususnya di sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar di sungai-sungai kecil yang menjadi anak sungai dari Besuk Kobokan.









