Jakarta (BERITA HARIAN ONLINE) – Hubungan antara Israel dan Iran telah berlangsung cukup lama. Rusia dikenal sebagai pemasok persenjataan untuk Iran.
Ketegangan terbuka antara Israel dan Iran yang terjadi beberapa waktu lalu menimbulkan pertanyaan tentang posisi Rusia dalam konflik ini.
Dalam diskusi terbatas yang diadakan di St. Petersburg pada Rabu, 18 Juni 2025, bersama 14 pemimpin kantor berita terkemuka dunia, Presiden Rusia Vladimir Putin tidak dapat menghindari pertanyaan tersebut.
Di antara kantor berita yang diundang oleh Putin adalah BERITA HARIAN ONLINE (Indonesia), TASS (Rusia), Xinhua (China), AFP (Prancis), AP (Amerika Serikat), Reuters (Inggris), DPA (Jerman), Agencia EFE (Spanyol), Anadolu Ajansi (Turki), AZERTAC (Azerbaijan), BELTA (Belarusia), Vietnam News Agency (Vietnam), Kazakhstan President’s TV and Radio Complex (Kazakhstan), dan Uzbekistan National News Agency (Uzbekistan).
Wartawan dari Reuters, Simon Robinson, mengajukan pertanyaan kepada Putin tentang pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang menyebutkan kemungkinan Israel mengubah rezim di Iran, serta pandangan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang meminta Iran untuk menyerah.
Menanggapi hal ini, Putin menjawab dengan mengajukan pertanyaan balik ke Robinson. “Apa yang Anda ingin saya katakan? Mereka menyatakan ini dan itu. Lalu Anda bertanya apakah saya setuju. Setuju dengan apa?” tanya Putin.
Robinson melanjutkan dengan pertanyaan tentang apakah Putin setuju dengan pandangan Israel dan AS mengenai perubahan rezim di Iran dan bahwa Iran harus kalah.
Putin mengungkapkan bahwa dia secara pribadi berkomunikasi dengan PM Netanyahu dan Presiden Trump. Dia menekankan, Rusia selalu mempertimbangkan semua aspek sebelum bertindak.
Rusia melihat bahwa Iran sedang mengalami banyak masalah politik internal.
“Ada konsolidasi dengan pemimpin negara tersebut, dan hal ini selalu terjadi di seluruh dunia, termasuk di Iran,” ujar Putin.
Dalam pertemuan tersebut, Putin tampak berhati-hati dalam menjawab pertanyaan mengenai Iran, tidak menunjukkan keberpihakan secara eksplisit.
Putin mengatakan, semua pihak membicarakan tentang fasilitas nuklir bawah tanah Iran. Menurutnya, akan lebih baik jika semua pihak bekerja sama mencari solusi untuk menghentikan konflik dan mencapai kesepakatan.
“Menjamin kepentingan Iran dalam penggunaan nuklir untuk tujuan damai, dan juga memastikan kepentingan keamanan Israel. Ini adalah isu kritis yang membutuhkan tindakan sangat hati-hati,” ujar Putin.
Putin optimis bahwa solusi ini dapat dicapai. Dia menyebutkan proyek yang dilakukan Rusia di Iran, yang sebelumnya dilakukan oleh Jerman, untuk pembangunan reaktor nuklir guna kepentingan damai. “Perusahaan Jerman mundur, lalu Iran meminta Rusia melanjutkan proyek tersebut. Itu adalah masa yang sulit. Alih-alih Jerman, mereka ingin kami mengadaptasinya, dan kami berhasil,” ujarnya.
Menurut Kremlin, ada setidaknya 200 spesialis nuklir Rusia di Iran, dan karena itu Rusia meminta adanya jaminan keamanan.
Rusia memahami bahwa rencana Iran membangun reaktor nuklir adalah untuk kepentingan damai, seperti di bidang pertanian dan kedokteran, dan tidak perlu dikhawatirkan.
“Dalam energi nuklir, kami dapat bekerja sama dengan Iran. Kerja sama ini sudah berlangsung lama. Saya tidak akan membicarakan detailnya, tapi semuanya sudah dibahas dengan Israel dan AS. Kami memberi sinyal bahwa kami dapat menjamin kepentingan Iran dalam membangun nuklir untuk tujuan damai, sekaligus memprioritaskan keamanan Israel,” jelasnya.
Putin tampak ekspresif saat menjelaskan, dengan gerakan tangan yang menegaskan setiap pernyataannya.
“Kami sudah mengambil posisi untuk mitra AS, Israel, dan Iran. Tapi saya tidak memaksa siapa pun. Kami hanya membicarakan solusi yang kami lihat untuk masalah ini. Keputusan tetap ada di tangan pemimpin politik masing-masing negara, yakni Iran dan Israel,” katanya.
Putin Enggan Menjawab
Ada saat di mana Putin tidak ingin menjawab pertanyaan tentang konflik Iran, yaitu ketika redaktur utama AFP Karim Talbi menanyakan pandangan Putin jika Israel mendukung AS dalam membunuh pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.
“Saya harap ini adalah jawaban yang paling tepat untuk Anda. Saya tidak ingin menjawab itu,” jawab Putin kepada Talbi.
Meski berbicara dengan senyum, Putin tetap menunjukkan ketegasan. Tangannya dibiarkan di atas meja, sementara bahunya bergerak naik turun saat berbicara.
Talbi terus berusaha meminta komentar Putin dengan menyebutkan bahwa Israel dan AS sudah membahas hal tersebut.
Namun Putin tetap teguh, “Saya tidak mau berdiskusi tentang itu.”
Talbi kemudian mengalihkan pertanyaan mengenai kerja sama Rusia dengan Iran yang semakin berkembang, yang memunculkan anggapan bahwa Rusia akan membela Iran dari Israel.
“Kerja sama strategis Rusia dan Iran berkembang, apakah Anda akan membela Iran dalam situasi yang sangat sulit saat ini? Apakah Anda akan membela Iran dari Israel?” tanya Talbi.
Putin mengakui bahwa Rusia memiliki kerja sama dengan Iran, terutama dalam sistem pertahanan udara. Namun kerja sama tersebut hanya sebatas perjanjian kemitraan strategis, dan tidak terkait bidang militer.
“Teman di Iran bukan orang biasa. Secara praktis tidak ada yang bisa dibahas,” kata Putin.
“Tapi Anda membahas tentang sistem (rudal) S300 dan S200?” tanya Talbi lagi.
“Tawaran kami saat itu untuk membangun sistem baru, sistem pertahanan udara, dan akhirnya tidak ada ketertarikan dari Iran, jadi tidak terjadi,” jelas Putin.
Putin menyatakan bahwa Rusia memang memasok senjata ke Iran, tetapi hal ini tidak terkait dengan krisis antara Iran dan Israel saat ini. Dia menegaskan bahwa ini adalah pasokan reguler dalam kerangka kerja sama militer.
“Dalam konteks hukum internasional, Iran tidak pernah meminta kami untuk melanggar norma hukum internasional dan kami selalu bertindak dalam kerangka hukum internasional,” jelas Putin.
(Bersambung ke bagian 5)









