Home / Ekonomi / Kemendag Berupaya Melindungi Industri Padat Karya di Tengah Ketidakpastian Tarif AS

Kemendag Berupaya Melindungi Industri Padat Karya di Tengah Ketidakpastian Tarif AS

kemendag melindungi industri padat karya di tengah gejolak tarif as

Kemendag Berupaya Melindungi Industri Padat Karya di Tengah Ketidakpastian Tarif AS

Kami percaya bahwa dialog terbuka adalah solusi terbaik untuk mencegah meningkatnya ketegangan perdagangan di masa mendatang.

Jakarta (BERITA HARIAN ONLINE) – Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri mengungkapkan bahwa strategi pemerintah dalam menghadapi ketidakpastian tarif resiprokal dari Amerika Serikat (AS) bertujuan untuk menjaga industri padat karya, seperti tekstil.

“Kami prihatin dengan dampak dari tarif resiprokal AS terhadap industri padat karya, termasuk tekstil dan garmen, alas kaki, serta industri kelapa sawit dan produk turunannya,” ujar Dyah dalam acara “Public Forum: Regional Response to Trump 2.0” yang diadakan oleh CSIS Indonesia, dipantau dari Jakarta, pada hari Kamis.

Menurut Dyah, industri padat karya tersebut tidak hanya berfokus pada ekspor tetapi juga memiliki peran penting dalam bidang ketenagakerjaan di Indonesia.

Selain itu, sektor-sektor tersebut juga memainkan peran signifikan dalam pengembangan daerah pedesaan.

Oleh karena itu, untuk bersiap menghadapi tarif resiprokal AS, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto telah menginstruksikan kabinetnya untuk melaksanakan strategi yang berlandaskan pada diplomasi, solidaritas regional, dan diversifikasi pasar dalam jangka panjang.

“Kami menghargai hubungan bilateral dan perdagangan yang terjalin dengan Amerika Serikat. Kami yakin dialog terbuka adalah cara terbaik untuk mencegah konflik perdagangan di masa depan,” ungkap Dyah Roro.

Melalui dialog tersebut, Indonesia berharap dapat memperjelas ruang lingkup kebijakan tarif resiprokal AS, serta membahas kerugian bersama akibat kebijakan tersebut.

“Kerugian ini tidak hanya dirasakan oleh eksportir Indonesia, tetapi juga oleh importir dan konsumen di Amerika Serikat,” tambahnya.

Pada 2 April 2025, Presiden AS Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif resiprokal terhadap sejumlah negara, termasuk Indonesia.

Indonesia dikenai tarif resiprokal sebesar 32 persen, sementara negara-negara ASEAN lainnya, seperti Filipina 17 persen, Singapura 10 persen, Malaysia 24 persen, Kamboja 49 persen, Thailand 36 persen, dan Vietnam 46 persen.

Namun, pada Rabu (9/4) sore waktu AS, Trump mengumumkan penundaan selama 90 hari untuk tarif resiprokal terhadap berbagai negara mitra dagang, meskipun tetap menaikkan bea masuk untuk China menjadi 125 persen.

Negara-negara yang awalnya akan dikenakan tarif resiprokal lebih tinggi saat ini hanya akan dikenakan tarif dasar sebesar 10 persen untuk baja, aluminium, dan mobil.

Tag:

Category List

Social Icons