ICPI Soroti Pentingnya Mengikuti Pergeseran Tren Pariwisata
Jakarta (BERITA HARIAN ONLINE) – Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) menyoroti pentingnya bagi pemerintah untuk menyesuaikan diri dengan perubahan paradigma pariwisata demi meningkatkan kunjungan wisatawan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
“Kita belum menyadari bahwa telah terjadi perubahan paradigma dalam pariwisata. Pada periode 2023-2025, terjadi tren pariwisata yang lebih terpersonalisasi, dan di tahun 2025 serta seterusnya, mungkin saja kita menghadapi krisis ekonomi babak kedua,” kata Ketua Umum ICPI Azril Azhari saat dihubungi BERITA HARIAN ONLINE di Jakarta, Kamis.
Azril menjelaskan bahwa sejak sebelum tahun 1980, paradigma pariwisata terus mengalami perubahan seiring perkembangan zaman. Mulai dari pariwisata massal hingga pariwisata yang lebih disesuaikan dengan minat pengunjung.
Belakangan ini, wisatawan cenderung mencari pariwisata dengan konsep berbasis minat khusus. Contohnya, seperti pengalaman pariwisata yang lebih mendalam dan bermakna (slow tourism), pariwisata kesehatan, hingga pariwisata budaya.
“Sebagai contoh, slow tourism adalah pariwisata yang menitikberatkan pada pengalaman lebih mendalam dan bermakna, dengan interaksi yang lebih dekat dengan masyarakat lokal, lingkungan, dan budaya. Berbeda dengan pariwisata massal yang sering dianggap merusak lingkungan dan budaya lokal,” ujar Azril.
Seiring dengan tren ini, pemerintah diminta untuk lebih menghargai lingkungan dan budaya lokal serta mampu berinteraksi dengan masyarakat setempat. Hal ini bertujuan agar wisatawan yang datang dapat merasakan pengalaman yang sangat berkesan melalui pariwisata berkelanjutan.
Azril juga menyarankan pemerintah untuk membuat kebijakan yang mengikuti pergeseran paradigma pariwisata, yang juga beradaptasi dengan perubahan perilaku pengunjung.
Di sisi lain, dia juga mengingatkan bahwa kebersihan, keamanan, dan keselamatan lingkungan (K3L) adalah prasyarat dalam membangun destinasi wisata.
“Artinya, ini bukan sekadar gerakan atau imbauan, melainkan prasyarat. Lakukan penghargaan dan sanksi melalui monitoring dan evaluasi. Ini adalah indikator dasar dalam Travel and Tourism Development Index (TTDI),” kata Azril.








