Home / Budaya / Komunitas Lima Gunung: Seruan Jiwa untuk ‘Menapak Bumi’

Komunitas Lima Gunung: Seruan Jiwa untuk ‘Menapak Bumi’

komunitas lima gunung panggilan nurani untuk napak bumi

Komunitas Lima Gunung: Seruan Jiwa untuk ‘Menapak Bumi’

Magelang (BERITA HARIAN ONLINE) – Di bawah dinginnya malam yang menyelimuti kawasan Gunung Merapi, para seniman dan petani yang tergabung dalam Komunitas Lima Gunung berkumpul di Pendopo Padepokan Tjipto Boedojo, Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Mereka memulai peringatan tahun kelima dari Hari Peradaban Desa.

Komunitas seniman petani dari Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh di Kabupaten Magelang ini menetapkan tanggal 21 Mei untuk peringatan tersebut, yang pada tahun kelima ini mengangkat tema “Menapak Bumi”.

Mulai Selasa (20/5) malam hingga Rabu (21/5) pagi, komunitas yang didirikan dan dibangun kemandiriannya oleh budayawan Magelang, Sutanto Mendut (71), lebih dari 25 tahun lalu, melaksanakan peringatan Hari Peradaban Desa. Sekitar 100 seniman petani dan pegiat budaya, baik pria maupun wanita, berpartisipasi dalam acara ini sembari mengenakan pakaian tradisional Jawa.

Melalui peringatan ini, Komunitas Lima Gunung berupaya menghadirkan momen untuk menggali kembali kebijaksanaan desa dan nilai-nilai luhur warisan nenek moyang, sebagai bekal menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks, serta perubahan lingkungan yang dinamis, sembari meneguhkan keadaban baru yang tetap berakar pada keluhuran bangsa.

Brian Trinanda K Adi, seorang pengamat budaya yang tengah menempuh studi doktoral dalam bidang kajian budaya di Universitas Amsterdam, Belanda, memandang tema “Menapak Bumi” bukan sekadar ajakan untuk menghindari hiruk-pikuk peradaban modern, tetapi sebagai panggilan yang menggugah kekosongan spiritual bangsa.

Lebih lagi bagi para elit, “Menapak Bumi” menjadi gema yang menembus batas ego, mengingatkan akan keadilan sejati yang harus lahir dari keberanian untuk mendengar, memahami, dan sungguh-sungguh menapakkan kaki di bumi.

Tentu saja, hal ini tidak mudah diwujudkan dalam kepemimpinan negara yang dikelilingi oleh oligarki. Namun, “Menapak Bumi” pada Hari Peradaban Desa tahun ini justru menjadi ruang refleksi substansial agar bangsa dan negara ini selamat dari keterasingan dan ketidakadilan.

“Menapak Bumi” mungkin terdengar sebagai bahasa asing bagi para elit yang sibuk menggapai langit dan melupakan tanah tempat mereka berdiri. Stereotip seperti lambat, kuno, dan primitif menjadi tembok tak kasat mata yang membungkam makna sejati dari suara-suara tersebut.

“Tidak heran jika kebijakan terus mengalir dari atas tanpa benar-benar memahami makna dari bawah. Ada kesenjangan, kesalahan penerjemahan yang akut, sehingga keadilan pun menjadi fatamorgana,” ungkapnya.

Namun, pesan “Menapak Bumi” perlu diungkapkan karena merupakan peringatan bagi mereka yang terlena di puncak piramida dan berambisi terbang lebih tinggi, tanpa menyadari bahwa akar kehidupan mereka semakin rapuh.

Ironi tentang semakin tinggi mereka terbang membuat mereka lupa cara mendarat harus ditangkal dengan kesadaran akan arti kembali, mendarat, dan menyelami makna keadilan dari dalam pikiran.

“Sebagaimana pesan bijak dari Mbah Pram (Sastrawan Pramoedya Ananta Toer/1925-2006),” kata Brian yang berasal dari Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Kenduri

Sebelum tengah malam pada Selasa (20/5) beralih ke hari peringatan, acara Hari Peradaban Desa ditandai dengan kenduri tumpeng “Selametan”, pembacaan doa dan mantra kejawen oleh pimpinan Padepokan Tjipto Boedojo, Sitras Anjilin (66). Hadir pula Rektor Universitas Tidar (Untidar) Magelang Sugiyarto, sejumlah perwakilan seniman “Kiai Kanjeng” Yogyakarta, dan beberapa peneliti serta pemerhati budaya.

Sitras, yang juga tokoh sesepuh Komunitas Lima Gunung, memimpin para pegiat seni budaya yang hadir malam itu untuk retret dengan melantunkan 12 bait tembang Mocopat dari Serat Kalatidha (Pupuh Sinom) karya pujangga Raden Ngabehi Ranggawarsita (1802-1873) dan Sesinggah (Pangkur) karya Ulama Sunan Kalijaga (1450-1592).

Bait pertama pupuh Sinom membawa mereka kepada refleksi tentang negara yang sepi karena kerusakan komunikasi, hilangnya keteladanan, dan marjinalisasi sopan santun, sementara para bijak pandai terbawa arus zaman kalatida atau ketidakpastian dan semua orang abai serta masuk dalam arus godaan.

Pupuh Pangkur dalam Sesinggah, berupa bait demi bait mantra tolak bala, dilantunkan agar manusia bebas dari bahaya dan bencana.

Pada pagi harinya, Rabu (21/5), setelah prosesi jalan kaki mengelilingi Dusun Tutup Ngisor, sekitar delapan kilometer barat daya puncak Gunung Merapi, seniman petani menandai tolak bala melalui performa seni.

Seniman Mastur, Khoirul Mutakin, Gianto, Sujono, dan Shuko Sastro Gending tampil dalam performa seni “Mberat Sukerta”, berupa jamasan lumpur di depan Candi Sapta Widayat, kompleks padepokan tersebut. Suasana sesi ini diwarnai dengan pembacaan puisi oleh dua penyair komunitas, Lie Thian Hauw (Haris Kertorahardjo) dan Hudi DW.

Mereka, sambil memegang dupa, menaburkan bunga mawar merah dan putih, serta memantik alat bunyi-bunyian, berjalan mengelilingi dusun itu seakan menyambut matahari terbit di kawasan Gunung Merapi.

Setelah tiba di depan Candi Sapta Widayat, dilanjutkan dengan pembasuhan kaki menggunakan air dari beberapa mata air di Magelang oleh pegiat komunitas. Mereka kemudian memasuki bangunan di atas kolam, berupa cungkup pendiri Padepokan Tjipto Boedaja, Romo Yoso Sudarmo (1885-1990), untuk berziarah dan berdoa, sebagai bagian penting dari tema “Menapak Bumi”, selain penghormatan kepada leluhur manusia gunung dengan nilai-nilai kearifan dan budaya masyarakat desa.

Peringatan Hari Peradaban Desa dengan tema “Menapak Bumi” kali ini, menurut Sutanto Mendut, merupakan penguatan atas kehadiran, aktivitas budaya dan seni, serta peran inspiratif Komunitas Lima Gunung selama ini dalam menjaga kekuatan nilai-nilai kehidupan desa dan gunung.

Komunitas ini, dengan perkembangan dan dinamika berjejaring, juga memelihara tradisi Festival Lima Gunung dengan kekuatan mandiri. Tahun ini, festival mereka yang telah dikenal luas akan memasuki perhelatan ke-24 kalinya secara berturut-turut, termasuk ketika terjadi pandemi global COVID-19. Komunitas ini tengah bersiap menggelar Festival Lima Gunung untuk tahun ini.

Seperti menapak bumi, perjalanan hidup Komunitas Lima Gunung diungkapkan oleh Sutanto dalam sarasehan Hari Peradaban Desa, Selasa (20/5) malam, di pendopo padepokan, sebagai “diturunkan dari langit” untuk memberi manfaat bagi bumi, lingkungan, sesama makhluk, dan semesta makna kehidupan, serta menjadi bagian dari semua itu.

Karena itu, mereka harus rendah hati. Tidak semua tindakan seni budaya dan pemikiran bersama dalam kerangka komunitas, selalu menghasilkan hasil sempurna atau sesuai harapan.

Namun, dengan kesadaran akan keberadaan sebagai manusia wadak yang harus “Menapak Bumi”, mereka telah mencatat perjalanan panjang yang penting tentang pengejawantahan makna rahmatan lil-alamin. Termasuk tahun ini, situasi terkini membuat mereka mengajak siapa saja untuk menyadari kenyataan dan memenuhi panggilan jiwa, “Menapak Bumi”.

Tag:

Category List

Social Icons