Analis: Iran Raih Kemenangan Strategis dalam Konflik 12 Hari dengan Israel
Jakarta (BERITA HARIAN ONLINE) – Analis sekaligus pengajar hubungan internasional di Universitas Padjadjaran (Unpad), Dina Sulaeman, menyatakan bahwa konflik selama 12 hari antara Iran dan Israel dimenangkan oleh Iran, bukan Israel.
“Israel memang unggul di awal. Namun, jika kita berbicara tentang kemenangan strategis dan ideologis, saya rasa Iran yang keluar sebagai pemenang,” ungkap Dina dalam Webinar mengenai Perkembangan Konflik Israel-AS-Iran: Implikasi Global dan Respons Indonesia di Jakarta, Kamis.
Ia menjelaskan bahwa serangan Israel terhadap Iran yang dimulai pada 13 Juni bertujuan untuk menghilangkan ancaman, karena Iran mendukung kelompok milisi yang menentang Israel akibat penindasan dari pasukan Zionis di wilayah Timur Tengah.
Sayangnya, Israel tidak mempertimbangkan aspek budaya dan peradaban Iran, yang dengan cepat melancarkan serangan balasan setelah serangan Israel yang menewaskan beberapa tokoh dan ilmuwan Iran.
“Dari perspektif budaya, ketika ada tokoh yang gugur, hal tersebut justru diumumkan, bukan disembunyikan. Cara ini justru memobilisasi dukungan dari masyarakat,” tambahnya.
Berkat dukungan tersebut, Iran dengan cepat mengganti kepemimpinan tokoh-tokoh yang gugur akibat serangan Israel dan segera melancarkan serangan balasan.
Dina mengutip pernyataan tokoh Iran, Ali Larijani, yang mengakui bahwa Iran memang tertekan akibat serangan pada 13 Juni. Namun, masyarakat Iran segera bangkit dan bersatu mendukung pemerintah, sehingga Iran dengan cepat melancarkan serangan balasan.
Yang menarik dari pernyataan Larijani, menurut Dina, adalah bahwa kebangkitan tersebut berakar dari peradaban Iran yang telah bertahan ribuan tahun dan tidak runtuh hanya karena tokoh-tokohnya diserang.
Selain dukungan masyarakat, kemenangan Iran dalam konfliknya dengan Israel juga didukung oleh arah kebijakan luar negerinya yang menolak hegemoni dan imperialisme Barat, terutama Amerika Serikat.
Hal ini tercermin dalam konstitusi Iran yang menolak segala bentuk penindasan, dominasi asing, dan imperialisme.
“Kita tahu sejak awal bahwa Amerika Serikat dipandang sebagai simbol utama imperialisme global yang harus ditolak. Oleh karena itu, kebijakan luar negeri Iran diarahkan untuk mencegah infiltrasi politik, budaya, dan ekonomi, serta dominasi ekonomi oleh pihak asing,” jelas Dina.








