Jakarta (BERITA HARIAN ONLINE) – Proyeksi Pelemahan Rupiah
Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan nilai tukar rupiah akan melemah seiring dengan penurunan aktivitas manufaktur di China.
“Data terbaru dari China menunjukkan bahwa aktivitas manufaktur mengalami penurunan yang mengejutkan, terkontraksi pada angka 48.3, di bawah ekspektasi ekspansi 50.6. Kondisi ini bisa mempengaruhi pelemahan rupiah lebih lanjut,” ujarnya kepada BERITA HARIAN ONLINE di Jakarta, pada hari Selasa.
Ia menambahkan bahwa pelemahan ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh perang tarif antara China dan Amerika Serikat.
Menurut laporan Anadolu Agency, Presiden AS Donald Trump menuduh China melanggar kesepakatan dagang baru-baru ini, yang berpotensi menimbulkan ketidakpastian dalam perdagangan global. Trump tidak merinci pelanggaran yang dimaksud.
China, di sisi lain, dengan tegas menolak tuduhan tersebut. Pada pertengahan Mei 2025 di Jenewa, Swiss, Kementerian Perdagangan China menyatakan bahwa tuduhan Trump tidak berdasar, dan Beijing akan terus mempertahankan kepentingannya.
Ketegangan ini meningkatkan kekhawatiran akan memburuknya hubungan dagang antara kedua negara, terutama setelah kritik China terhadap kontrol ekspor AS pada chip kecerdasan buatan, penghentian penjualan perangkat lunak desain chip (electronic design automation) ke China, dan pencabutan visa untuk pelajar China.
Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa tidak ada kesepakatan perdagangan yang berkelanjutan dalam waktu dekat.
Juru Bicara Kedutaan Besar China di Washington, Liu Pengyu, menegaskan bahwa pihaknya mendesak AS untuk segera memperbaiki tindakan yang salah, menghentikan pembatasan diskriminatif terhadap China, dan menegakkan konsensus yang dicapai dalam pembicaraan tingkat tinggi di Jenewa.
AS dan China telah menangguhkan tarif pembalasan selama 90 hari dan saling menurunkan tarif sebesar 115 persen. Tarif bea masuk AS terhadap China akan dikurangi menjadi 30 persen dari sebelumnya 145 persen, sementara tarif China terhadap AS akan dipotong menjadi 10 persen dari 125 persen mulai 14 Mei.
Pada hari ini, Lukman melaporkan bahwa dolar AS terlihat rebound karena investor mengantisipasi kemungkinan perubahan sikap Trump sebelum penerapan kenaikan tarif baja dan aluminium pada Rabu (4/6).
Pada hari Jumat (30/5), Trump mengumumkan peningkatan signifikan tarif impor baja dan aluminium dengan menggandakan tarif dari 25 persen menjadi 50 persen sebagai langkah untuk melindungi industri dalam negeri Amerika.
Trump berargumen bahwa kenaikan ini akan menutup celah yang dimanfaatkan oleh pesaing asing untuk menghindari tarif sebelumnya. Dalam pertemuan dengan investor sektor baja, Presiden AS menyatakan bahwa tarif sebesar 25 persen belum cukup untuk melindungi industri tersebut dari pesaing. Namun, dengan tarif baru sebesar 50 persen, Trump yakin tidak ada lagi yang bisa menghindarinya.
“(Rebound ini) juga dipengaruhi oleh aksi profit taking, mengingat dinamika tarif yang terus berubah,” kata dia.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, nilai tukar rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp16.200-Rp16.300 per dolar AS hari ini.
Pada pembukaan perdagangan hari Selasa pagi di Jakarta, nilai tukar rupiah melemah 37 poin atau 0,23 persen menjadi Rp16.290 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.253 per dolar AS.









